Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Sering Terjadi Kasus Keracunan, Hashim: Hal Wajar

Jurnalis: Muhammad Oby
Kabar Baru, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah muncul laporan keracunan dan temuan belatung pada sejumlah menu yang dibagikan.
Meski menuai kritik, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, menilai kejadian tersebut sebagai hal yang masih dapat dimaklumi dalam tahap awal pelaksanaan program dalam keterangannya kepada media saat menghadiri acara ABPEDNAS di Jakarta.
Hashim mengakui bahwa pelaksanaan MBG di lapangan masih menghadapi berbagai kelemahan. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut wajar mengingat skala program yang besar dan baru pertama kali dijalankan secara nasional.
“Kita lihat memang ada kelemahan-kelemahan, misalnya keracunan, ada timbulnya belatung-belatung dan sebagainya. Tapi saya kira ini suatu hal yang cukup wajar,” ujarnya.
Hashim menjelaskan, MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang menyasar kelompok rentan, termasuk anak sekolah dan balita yang mengalami stunting. Dengan cakupan penerima manfaat yang luas, ia menilai proses penyesuaian di lapangan tidak bisa dihindari.
Menurutnya, setiap program berskala besar pasti menghadapi tantangan pada fase awal implementasi. Oleh karena itu, evaluasi dan perbaikan terus dilakukan agar tujuan program dapat tercapai secara optimal.
Ia juga menyoroti maraknya kritik terhadap MBG yang dinilai tidak sepenuhnya objektif. Hashim menyebut ada pihak-pihak tertentu yang menyerang program tersebut dengan informasi yang tidak benar.
“Program MBG ini banyak diserang oleh kelompok-kelompok tertentu dengan fitnah dan hoaks. Namun kita harus tetap menanggapi aspirasi masyarakat yang benar-benar tulus,” tegasnya.
Kasus Keracunan di Jeneponto
Di tengah pernyataan tersebut, kasus dugaan keracunan kembali terjadi. Sebanyak 23 siswa UPT SDN 7 Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi menu MBG pada Kamis (23/4/2026).
Kepala Puskesmas Tompobulu, Sudarmi Salawaty, membenarkan bahwa puluhan siswa sempat mendapatkan penanganan medis. Dari total korban, sebagian telah diperbolehkan pulang, sementara lainnya masih menjalani perawatan intensif dan rujukan ke rumah sakit.
“Sebanyak 13 anak sempat diinfus, tujuh masih dirawat, dan enam dirujuk ke Rumah Sakit Pratama Rumbia,” jelasnya.
Gejala yang dialami siswa cukup beragam, mulai dari diare, sakit perut hebat, hingga kejang dan sesak napas.
Gejala Muncul Usai Konsumsi Menu MBG
Kepala sekolah setempat, Hj Siti Muliati, menyebutkan bahwa gejala mulai dirasakan siswa tidak lama setelah mengonsumsi makanan yang disediakan. Menu yang diduga menjadi penyebab adalah ikan layang goreng tepung.
“Tidak sampai satu jam setelah makan, sudah ada yang mengeluh gatal-gatal,” ujarnya.
Ia menambahkan, hampir seluruh kelas terdampak, dengan jumlah terbanyak berasal dari siswa kelas 6. Beberapa siswa bahkan baru menunjukkan gejala setelah tiba di rumah, sebelum akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan.
### Evaluasi dan Pengawasan Jadi Sorotan
Kasus ini kembali memunculkan desakan agar pemerintah memperketat pengawasan terhadap kualitas makanan dalam program MBG. Selain aspek distribusi, proses pengolahan dan penyimpanan makanan dinilai menjadi titik krusial yang harus diperbaiki.
Seiring dengan ambisi besar program ini dalam menekan angka stunting dan meningkatkan gizi anak, publik kini menunggu langkah konkret pemerintah untuk memastikan kejadian serupa tidak terus berulang.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

