Mahasiswa KKN UNS 130 Edukasi Sampah dan Rocket Stove
Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Yogyakarta — Permasalahan pengelolaan sampah rumah tangga di desa-desa masih menjadi tantangan serius. Di Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kebiasaan membakar sampah secara terbuka tanpa pemilahan terlebih dahulu masih kerap dilakukan oleh warga. Merespons kondisi tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 130 hadir membawa serangkaian program edukasi dan pemberdayaan yang berlangsung selama 45 hari, sejak 6 Januari hingga 19 Februari 2026.
Tim yang beranggotakan 10 mahasiswa dari berbagai program studi ini mulai dari Ilmu Administrasi Negara, Teknik Sipil, Ilmu Hukum, Pendidikan Fisika, Pendidikan Kimia, Sastra Inggris, Teknologi Pendidikan, hingga Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian terjun ke masyarakat dengan mengusung tema besar “Edukasi Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penguatan SDGs.” Kegiatan mereka menyasar berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu PKK, perangkat desa, pengelola sampah padukuhan, hingga siswa sekolah dasar.
Empat Program Nyata di Lapangan
Selama masa pengabdian, tim melaksanakan empat program utama yang saling berkesinambungan. Program pertama adalah Sosialisasi Pemilahan Sampah Rumah Tangga sebagai Upaya Pengurangan Pembakaran Sampah yang dipandu oleh Clarysta Elda. Dalam program ini, ibu-ibu PKK dan warga Padukuhan Ngeburan yang berjumlah sekitar 15 hingga 20 orang mendapat pemaparan tentang klasifikasi sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya beracun (B3) serta dampak negatif pembakaran terbuka bagi kesehatan, seperti pencemaran udara dan risiko gangguan pernapasan.
Program kedua adalah Edukasi dan Demonstrasi Pemanfaatan Sistem Rocket Stove untuk Pengelolaan Sampah. Kegiatan yang dipandu oleh Alif Arnenda dan Raeza Falevy ini dihadiri oleh 20 hingga 25 peserta. Para peserta terdiri dari perwakilan pengelola sampah padukuhan, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMK), serta perangkat desa, termasuk Ulu-ulu, Carik, dan Lurah Desa Sumberharjo. Tim memperkenalkan prinsip kerja rocket stove tungku pembakaran minim asap berbahan dasar drum bekas yang menghasilkan proses pembakaran lebih sempurna dengan sirkulasi udara yang optimal. Peserta juga mendapat desain 3D lengkap beserta daftar bahan agar dapat mereplikasi alat tersebut secara mandiri.
“Output yang diharapkan adalah meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah, meningkatnya kesadaran terkait peran masyarakat baik individu maupun kelompok dalam upaya mengatasi permasalahan sampah, dan berkurangnya praktik pembakaran sampah secara terbuka. Selain itu, dari kegiatan ini menjadi wujud konkret upaya mencapai SDGs poin ke-3 dan ke-11,” ungkap Alif yang juga Ketua Tim KKN UNS Kelompok 130.
Program ketiga berupa pelatihan daur ulang sampah anorganik menjadi produk kerajinan tangan berupa keychain (gantungan kunci) dari tutup botol plastik bekas. Dipandu oleh Nadila Ningtias, peserta mempraktikkan langsung proses pemotongan, pelelehan menggunakan setrika berbantuan baking paper, pencetakan, hingga pemasangan aksesoris. Kegiatan ini memberikan nilai guna sekaligus membuka potensi nilai ekonomi tambahan bagi warga.
Sementara itu, program keempat yang dipandu oleh Muazarah Nasywatu menyasar generasi muda. Tim menggelar sosialisasi pemilahan sampah organik, anorganik, dan B3 kepada sekitar 20 hingga 25 siswa kelas III SD Muhammadiyah Bleber menggunakan media poster edukatif yang dipadukan dengan permainan interaktif memilah sampah berdasarkan jenisnya. Pendekatan yang menyenangkan ini dirancang untuk menanamkan kebiasaan pengelolaan sampah yang baik sejak usia dini.
Respons Positif Masyarakat
Kehadiran tim KKN disambut antusias oleh warga. Masyarakat aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan teknis terkait penerapan rocket stove maupun praktik daur ulang plastik di lingkungan rumah tangga mereka. Meski demikian, tim mengakui masih terdapat tantangan yang harus dihadapi di lapangan.
“Ditemukan bahwa sebagian masyarakat masih belum terbiasa melakukan pemilahan sampah dari sumbernya, sehingga diperlukan pendekatan edukatif yang berkelanjutan untuk mendorong perubahan perilaku pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga,” ungkap Alif.
Perubahan perilaku memang tidak dapat terjadi secara instan. Oleh karena itu, program KKN ini dirancang tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan meninggalkan bekal yang dapat direplikasi dan dikembangkan secara mandiri oleh warga. Hal ini tercermin dari rencana tindak lanjut yang telah disusun bersama pemerintah desa.
Sebagai tindak lanjut, pihak Desa Sumberharjo menyampaikan rencana untuk mempertimbangkan implementasi sistem rocket stove di tingkat padukuhan berdasarkan desain yang telah diberikan oleh Tim KKN UNS Kelompok 130. Pelatihan daur ulang sampah anorganik pun berpotensi untuk dikembangkan kembali sebagai kegiatan lanjutan guna meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Dampak Lebih Luas
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Pemerintah Desa Sumberharjo berperan aktif mendukung pelaksanaan seluruh rangkaian edukasi pengelolaan sampah, sementara SD Muhammadiyah Bleber membuka pintu bagi tim untuk menjangkau peserta didik mereka. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi modal penting dalam memperluas jangkauan edukasi yang dilaksanakan.
Kegiatan KKN ini dibimbing oleh Titi Wahyuni S.Pd., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing Lapangan dari UNS. Dengan mengusung pendekatan edukatif yang aplikatif, tim berharap program yang mereka jalankan dapat menjadi titik awal perubahan nyata dalam pengelolaan sampah di Desa Sumberharjo—mendorong terwujudnya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan, sejalan dengan komitmen global terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

