Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Green Chemistry, Mengajak Santri Yogya Memahami Krisis Energi

WhatsApp Image 2026-04-12 at 16.03.53
Para santri berfoto bersama seusai kegiatan, sambil memamerkan hasil praktikum filtrasi sederhana yang menunjukkan perubahan air menjadi lebih jernih, (Foto: Fauzan Abrori).

Jurnalis:

Kabar Baru, Yogyakarta – Air berwarna cokelat itu mengalir pelan dari botol bekas yang digantung terbalik. Di bawahnya, sepasang tangan remaja menadah hasilnya dengan gelas plastik sederhana. Beberapa detik kemudian, cairan yang semula keruh berubah menjadi lebih jernih belum sempurna, tetapi cukup untuk membuat mereka saling menatap dengan takjub. Di ruang kelas sederhana sebuah pesantren di Yogyakarta, siang itu, pelajaran tentang krisis energi dan lingkungan tidak hadir dalam bentuk ceramah panjang, melainkan melalui tetes-tetes air yang disaring dengan arang, pasir, dan kapas.

Di tengah suhu yang kian tak menentu dan isu krisis lingkungan yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, pengalaman sederhana seperti ini menjadi jendela pemahaman baru bagi para santri. Mereka tidak hanya menyaksikan perubahan warna air, tetapi juga menyadari bahwa persoalan besar seperti krisis energi dan pencemaran lingkungan sering kali berakar dari hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele.

Yogya, yang selama ini dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, kini menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Perubahan musim tak lagi bisa diprediksi dengan mudah. Hujan datang di luar waktu yang semestinya, sementara kemarau kadang terasa lebih panjang dan kering. Di beberapa wilayah, krisis air bersih bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di sisi lain, persoalan sampah terus menggunung. Ratusan ton limbah dihasilkan setiap hari, sebagian besar belum terkelola dengan baik. Sungai-sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini menghadapi tekanan akibat limbah domestik. Di balik semua itu, ketergantungan terhadap energi fosil masih tinggi, menjadikan ketahanan energi daerah ini berada dalam posisi yang rentan.

Di tengah lanskap persoalan tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: bagaimana generasi muda memahami dan merespons krisis ini?

Jawabannya perlahan tumbuh dari ruang-ruang belajar seperti yang terjadi di Kelas X.a MA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, merka semua merupakan santri Pondok Pesantren Tahfidzil Quran Muhammadiyah Ibnu Juraimi. Di sana, pendekatan pembelajaran mulai bergeser tidak lagi hanya menekankan hafalan konsep, tetapi juga pengalaman langsung yang membentuk kesadaran ekologis. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program 1000 cahaya yang mendorong pendekatan edukasi energi dan lingkungan berbasis pengalaman langsung di sekolah.

WhatsApp Image 2026-04-12 at 16.08.05
Ajay Tiya Susanto, S.Pd. menjelaskan sekaligus mendemonstrasikan proses filtrasi sederhana menggunakan bahan-bahan sehari-hari, memperlihatkan bagaimana air keruh dapat berubah lebih jernih melalui susunan pasir, arang, dan kapas di hadapan para santri, (Foto: Fauzan Abrori).

Kegiatan di ruang kelas itu berlangsung tanpa kesan formal yang kaku. Para santri duduk berkelompok, masing-masing memegang bahan sederhana: botol plastik bekas, pasir, arang, dan kapas. Tidak ada alat laboratorium canggih, tidak pula bahan kimia berbahaya. Semua yang mereka gunakan adalah benda yang mudah ditemukan di sekitar. Sebelum praktik dimulai, guru terlebih dahulu mendemonstrasikan cara penyusunan media filtrasi serta menjelaskan setiap tahapannya secara sederhana, sehingga para santri memiliki gambaran jelas sebelum mencoba sendiri.

Namun justru dari kesederhanaan itulah makna pembelajaran menjadi lebih terasa.

1c152177-cc03-46f1-bc58-3aed610f05b1
Para santri dalam satu kelompok tampak fokus menjalankan praktikum filtrasi sederhana, bekerja sama menyusun media penyaring dan mengamati perubahan air secara bertahap, (Foto: Fauzan Abrori).

Salah satu kelompok terlihat sibuk menyusun lapisan penyaring. Mereka berdiskusi kecil menentukan urutan mana yang sebaiknya diletakkan lebih dulu. Kapas kasar di bagian atas, diikuti pasir, arang, lalu kapas halus di bagian bawah. Setiap lapisan memiliki fungsi, meski tidak semua langsung dipahami secara teoritis.

Ketika air keruh dituangkan ke dalam alat sederhana itu, proses filtrasi berlangsung perlahan. Tidak ada reaksi kimia spektakuler, tidak ada perubahan warna mencolok dalam sekejap. Tetapi justru di situlah letak pembelajarannya: perubahan membutuhkan proses.

Bagi sebagian santri, ini mungkin pengalaman pertama mereka melihat bagaimana air bisa “dibersihkan” dengan cara sederhana. Namun lebih dari itu, mereka mulai memahami bahwa kualitas air tidak bisa dilepaskan dari cara manusia memperlakukannya.

Konsep yang mereka pelajari hari itu dikenal sebagai green chemistry sebuah pendekatan dalam ilmu kimia yang menekankan pada pencegahan limbah, penggunaan bahan yang aman, serta efisiensi dalam proses.

Alih-alih menunggu kerusakan terjadi lalu mencari cara untuk memperbaikinya, pendekatan ini mengajak manusia untuk berpikir sejak awal: bagaimana membuat proses yang tidak merusak lingkungan?

Gagasan ini menjadi semakin relevan di tengah krisis energi global. Produksi energi selama ini banyak bergantung pada sumber daya fosil yang tidak hanya terbatas, tetapi juga menghasilkan emisi yang memperparah perubahan iklim. Dalam konteks ini, green chemistry tidak sekadar konsep ilmiah, melainkan juga cara pandang baru terhadap hubungan manusia dan alam.

Di ruang kelas itu, konsep tersebut diterjemahkan ke dalam praktik sederhana. Para santri tidak diajak membayangkan reaksi kimia kompleks, tetapi memahami prinsip dasar: bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap lingkungan.

“Lebih baik mencegah limbah daripada membersihkannya setelah terbentuk,” menjadi kalimat yang terus diingat oleh peserta. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung pesan yang dalam bahwa solusi terbaik sering kali dimulai dari perubahan cara berpikir.

Diskusi yang muncul setelah praktik justru memperlihatkan kedalaman pemahaman para peserta. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak lagi sebatas teknis, tetapi mulai menyentuh realitas di sekitar mereka.

Seorang santri menyinggung kondisi air di wilayah Gunungkidul yang kerap keruh. Pertanyaan itu tidak lahir dari teori, melainkan dari pengalaman nyata. Ia ingin tahu apakah metode sederhana seperti yang mereka praktikkan bisa diterapkan di sana.

Santri lain mengangkat persoalan sampah di lingkungan pesantren. Tumpukan sampah yang semakin banyak menjadi kegelisahan tersendiri. Diskusi kemudian berkembang ke arah pengelolaan sampah memilah antara organik dan anorganik, serta menghindari kebiasaan membakar yang justru memperparah pencemaran udara.

Pertanyaan lain muncul tentang alat filtrasi air yang dijual di pasaran. Apakah alat tersebut benar-benar efektif? Apakah aman digunakan? Dari sini, terlihat bahwa para peserta mulai menghubungkan pengetahuan yang mereka peroleh dengan pilihan-pilihan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Muhammad Zafi El Hikam, salah satu siswa, pengalaman hari itu memberikan perspektif baru. Ia menyadari bahwa pengelolaan air tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan energi dan kehidupan.

“Dari kegiatan sederhana ini, saya jadi paham bahwa air dan energi itu saling berkaitan. Kalau kita tidak menjaga lingkungan, dampaknya bisa ke mana-mana,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Khoirul Azzam melihat kegiatan ini sebagai pengalaman belajar yang berbeda. Ia tidak hanya memahami konsep, tetapi juga merasakan langsung prosesnya.

“Biasanya kita belajar dari buku. Tapi di sini, kita langsung praktik. Jadi lebih terasa,” katanya.

Bagi Muhammad Taufiq Alfarisi, kesadaran yang muncul justru lebih bersifat reflektif. Ia melihat bahwa tindakan kecil seperti menjernihkan air bisa menjadi langkah awal dalam menjaga bumi.

“Ternyata tidak harus melakukan hal besar dulu. Dari hal kecil saja sudah bisa berdampak,” ungkapnya.

Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran tidak selalu harus kompleks untuk menjadi bermakna. Justru ketika siswa atau santri dilibatkan secara langsung, mereka lebih mudah mengaitkan pengetahuan dengan realitas.

Dalam konteks Yogya, pendekatan seperti ini menjadi sangat penting. Persoalan lingkungan yang dihadapi tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan atau teknologi semata, tetapi juga menuntut perubahan perilaku masyarakat. Di titik inilah peran pendidikan menjadi krusial.

Pengamat pendidikan, Latief Susila Aji, S.Pd., G.r., S.S., M.Pd., melihat bahwa pengalaman belajar yang bersentuhan langsung dengan realitas akan lebih membekas.

“Pendekatan pembelajaran yang mengaitkan praktik langsung dengan isu efisiensi energi dan permasalahan lingkungan akan lebih efektif dalam membentuk karakter peduli lingkungan pada generasi muda,” ujarnya.

Apa yang ia sampaikan bukan tanpa alasan. Di balik suasana belajar yang tampak sederhana itu, Yogyakarta sebenarnya sedang menghadapi persoalan lingkungan yang tidak ringan. Awal 2026 menjadi titik penting ketika krisis pengelolaan sampah semakin terasa. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat, kebijakan penghentian pembuangan sampah organik ke depo mulai 1 Januari 2026 menjadi penanda bahwa sistem lama tidak lagi mampu menampung beban yang ada. Setiap hari, Kota Yogyakarta menghasilkan sekitar 350 ton sampah, dan lebih dari separuhnya sekitar 60 % merupakan sampah organik yang kini harus dikelola di tingkat kelurahan.

Sekolah dan pesantren memiliki peran strategis dalam proses ini. Di sanalah nilai-nilai dibentuk, kebiasaan dibangun, dan cara pandang dikembangkan. Ketika konsep seperti green chemistry diperkenalkan sejak dini, ia tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga bagian dari kesadaran.

Lebih jauh lagi, pendekatan ini membuka ruang bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan. Mereka tidak lagi diposisikan sebagai penerima informasi, tetapi sebagai individu yang mampu berpikir kritis dan bertindak.

Krisis energi dan lingkungan bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam bentuk yang semakin nyata tagihan listrik yang naik, air yang semakin sulit didapat, udara yang tidak lagi sebersih dulu.

Dalam situasi seperti ini, pendidikan memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran dan kepedulian.

Apa yang terjadi di ruang kelas sederhana di Yogya itu mungkin terlihat kecil. Hanya praktik penyaringan air dengan alat sederhana. Namun di balik itu, terdapat proses yang jauh lebih besar: pembentukan cara berpikir baru.

Cara berpikir yang melihat lingkungan bukan sebagai sesuatu yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

Menjelang sore, kegiatan itu berakhir tanpa seremoni panjang. Para santri merapikan alat, membersihkan meja, dan kembali ke rutinitas mereka. Namun sesuatu telah berubah meski tidak langsung terlihat.

Mungkin perubahan itu hadir dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang terus mereka pikirkan. Atau dalam kebiasaan kecil yang mulai mereka ubah. Atau dalam kesadaran bahwa masa depan lingkungan juga berada di tangan mereka.

Air yang tadi keruh kini terlihat lebih jernih. Tidak sempurna, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin.

Dan mungkin, dari tetes-tetes air itulah, kesadaran baru mulai mengalir.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store