Fotografer Indonesia Membangun Bisnis Global di Shutterstock, Artificial Intelligence Datang

Jurnalis: Zulfikar Rasyid
Kabar Baru, Jakarta – Di tengah pandemi Covid-19, ketika sebagian besar dunia berhenti bergerak, pengusaha Indonesia Wempy Dyocta Koto mengambil sebuah langkah yang tidak biasa dalam dunia visual dan media.
Saat lockdown melumpuhkan industri dan sektor pariwisata di Asia Tenggara, Wempy membangun jaringan yang terdiri dari sepuluh fotografer di berbagai wilayah Indonesia untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari di salah satu negara dengan keberagaman budaya terbesar di dunia.
Mulai dari gang-gang padat Jakarta, pasar tradisional di Sumatera Barat, upacara adat Bali, nelayan di pesisir, garis pantai tropis, masjid, pedagang kaki lima, hingga kehidupan urban generasi muda Indonesia, misinya sederhana namun ambisius: membangun salah satu perpustakaan stok foto independen terbesar asal Indonesia.
“Kami percaya bahwa autentisitas akan menjadi semakin bernilai di era digital,” kata Wempy, yang sebelumnya berkarier di industri periklanan global dan menangani berbagai merek internasional di bawah jaringan periklanan terbesar dunia.
“Pada saat itu, brand-brand global sedang mencari cerita yang nyata, manusia yang nyata, dan budaya yang nyata. Indonesia memiliki kekayaan visual yang luar biasa, tetapi masih sangat kurang terwakili secara global.” tambahnya.
Strategi tersebut berhasil
Apa yang awalnya hanya sebuah pergeseran strategi kemudian berkembang menjadi portofolio lebih dari 10.000 foto dan video original yang didistribusikan secara global melalui Shutterstock. Saat ini, Wempy dikenal sebagai salah satu kontributor Shutterstock dengan volume tertinggi dari Indonesia di tingkat global, dengan karya-karyanya digunakan dalam kampanye, situs web, publikasi, dan media digital di Eropa, Amerika, Asia, dan Australia.
Sepanjang kariernya di dunia periklanan dan kewirausahaan, visual storytelling bagi Wempy bukan sekadar pelengkap. Visual adalah aset strategis.
Selama bertahun-tahun, Wempy dan timnya menggunakan platform stok visual untuk membangun narasi kampanye dan memperkuat persepsi merek di berbagai pasar internasional. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beralih dari sekadar pengguna konten menjadi pemilik konten.
Filosofi mereka sederhana: ada kekuatan besar di dalam keseharian
Alih-alih hanya mengejar foto wisata yang terlihat sempurna, tim Wempy fokus mendokumentasikan momen-momen autentik kehidupan Indonesia seperti kegiatan keagamaan, pedagang pinggir jalan, tradisi lokal, keluarga lintas generasi, mahasiswa, nelayan, masyarakat desa, transportasi umum, dan dinamika kota-kota Indonesia di lebih dari 17.000 pulau.
“Kami tidak sedang membuat stok foto, kami sedang mengabadikan cerita,” kata Wempy.
Banyak dari cerita visual tersebut kemudian digunakan jauh melampaui Indonesia, masuk ke dalam kampanye iklan global, media internasional, materi pendidikan, komunikasi perusahaan, dan berbagai platform digital di seluruh dunia.
Selama bertahun-tahun, ekonomi industri stok fotografi bergantung pada skala, konsistensi, dan akses geografis. Tim fotografer berkeliling Indonesia menangkap momen yang sulit direplikasi oleh brand internasional.
Namun bahkan sebelum artificial intelligence hadir, banyak fotografer merasa industri ini sudah mulai runtuh akibat tekanan ekonomi yang semakin berat.
Pada tahun 2020, Shutterstock memicu kemarahan besar di kalangan fotografer setelah mengumumkan pemotongan royalti kontributor secara signifikan.
Bagi banyak kreator, kebijakan tersebut menjadi titik balik dalam industri yang selama bertahun-tahun sudah mengalami penurunan harga dan komisi.
Sebelumnya, Shutterstock menggunakan sistem “lifetime earnings”, di mana fotografer yang telah menghasilkan penjualan besar selama bertahun-tahun mendapatkan royalti lebih tinggi dibanding kontributor baru.
Namun sistem itu diganti menjadi sistem tahunan yang di-reset setiap Januari.
Artinya, setiap awal tahun seluruh fotografer kembali ke level royalti terendah, terlepas dari berapa lama mereka membangun portofolio di platform tersebut. Mereka harus kembali menaiki enam tingkatan royalti berdasarkan jumlah lisensi gambar yang terjual setiap tahun.
Bagi banyak fotografer, dampaknya langsung terasa: pendapatan turun drastis.
Forum-forum fotografi dipenuhi protes
“Ini adalah pemotongan pendapatan hingga 50 persen bagi sebagian besar pengguna,” tulis Richard Whitcombe, fotografer bawah laut dengan lebih dari 14.000 gambar di Shutterstock saat itu.
Kontributor lain asal Australia yang dikenal sebagai THPStock, yang telah membangun portofolio lebih dari 6.000 gambar selama satu dekade, juga mengecam keputusan tersebut.
“Pada beberapa bulan pertama setiap tahun, banyak kontributor hanya mendapatkan 15 sampai 25 persen, bahkan kontributor besar tetap terkena dampak di penjualan awal setiap tahunnya, ” tulisnya.
Banyak fotografer melihat kebijakan itu sebagai bukti bahwa platform stok foto semakin memprioritaskan kepentingan pemegang saham dibanding para kreator yang memasok konten.
Pada saat itu, Shutterstock mengatakan perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kondisi pasar dan menciptakan “peluang yang lebih adil”.
Namun banyak fotografer melihatnya sebagai bagian dari “race to the bottom” dalam industri stok fotografi global.
Dalam dua dekade terakhir, stok fotografi telah berubah dari profesi yang sangat menguntungkan menjadi bisnis berbasis volume, di mana fotografer mengandalkan ribuan hingga puluhan ribu gambar untuk menghasilkan pembayaran mikro dalam jangka panjang.
Lalu datanglah artificial intelligence generatif
Kehadiran generator gambar AI seperti DALL·E milik OpenAI, Firefly dari Adobe, dan Midjourney mengubah ekonomi industri visual secara drastis hanya dalam waktu singkat.
Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan fotografer, perjalanan, model, izin produksi, tim editing, dan waktu berhari-hari kini dapat dibuat hanya dalam hitungan detik melalui perintah teks.
“Klien yang sebelumnya membeli foto perjalanan atau lifestyle autentik sekarang mulai bereksperimen dengan gambar buatan AI karena lebih cepat dan jauh lebih murah dan ketika bisnis sedang berada di bawah tekanan ekonomi, biaya hampir selalu menjadi faktor penentu,” kata Wempy.
Disrupsi ini kini tidak hanya memukul fotografer, tetapi juga perusahaan stok foto itu sendiri.
Dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, Shutterstock melaporkan pendapatan sebesar US$199,2 juta, turun 18 persen dibanding tahun sebelumnya. Perusahaan juga berubah dari laba US$18,7 juta menjadi kerugian bersih sebesar US$47,6 juta.
EBITDA turun 33 persen, margin keuntungan tertekan, dan perusahaan terus menggelontorkan investasi besar ke sektor AI dan data licensing sambil menjalani proses merger kontroversial dengan Getty Images.
Shutterstock menyebut melemahnya pertumbuhan pelanggan baru, volatilitas bisnis data licensing, biaya hukum, biaya tenaga kerja, dan investasi AI sebagai faktor utama penurunan tersebut.
Ironi terbesar justru muncul di tengah situasi ini
Di saat pendapatan fotografer menurun, berbagai laporan riset pasar justru memprediksi industri stok fotografi global akan terus tumbuh hingga 2033.
Laporan Worldwide Market Reports tahun 2026 memperkirakan pasar stok fotografi akan terus berkembang didorong oleh meningkatnya kebutuhan konten untuk iklan, media sosial, e-commerce, desain website, blogging, komunikasi perusahaan, pendidikan, hingga pelatihan data AI.
Laporan tersebut menyebut Shutterstock, Adobe Stock, Getty Images, iStock, Dreamstime, Alamy, dan Depositphotos sebagai pemain dominan dalam industri yang terus berkembang seiring meningkatnya konsumsi konten digital global.
Namun bagi fotografer, pertanyaannya bukan apakah pasar tumbuh. Pertanyaannya adalah: siapa yang sebenarnya menikmati pertumbuhan tersebut?
Permintaan terhadap gambar tidak pernah sebesar sekarang. Dunia membutuhkan lebih banyak konten visual dibanding sebelumnya untuk media sosial, iklan digital, toko online, website, presentasi, materi pembelajaran, dan pelatihan artificial intelligence.
Nilai ekonomi yang kembali kepada para pembuat gambar justru terus menyusut
Inilah paradoks besar industri stok fotografi saat ini: pasarnya mungkin berkembang, tetapi fotografer manusia justru terhimpit dari dua sisi.
Di satu sisi, platform menurunkan royalti kontributor. Di sisi lain, artificial intelligence menghasilkan alternatif visual murah dalam skala masif.
Bagi Wempy, ketegangan itu sangat personal.
“Dunia masih membutuhkan gambar, Bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Tapi pertanyaan yang menyakitkan adalah apakah dunia masih mau membayar secara layak untuk gambar yang dibuat manusia.” katanya.
Menurutnya, masa depan industri tidak bisa hanya diukur dari ukuran pasar atau laporan investasi.
“Sebuah industri bisa tumbuh besar sementara para kreatornya perlahan mati, Platform bisa tumbuh. Perusahaan AI bisa tumbuh. Bisnis data bisa tumbuh. Tetapi para fotografer yang mendokumentasikan kehidupan nyata bisa tertinggal.” katanya.
Di seluruh dunia, para kontributor stok fotografi mulai melaporkan penurunan pendapatan, berkurangnya peluang lisensi, dan meningkatnya ketidakpastian terhadap masa depan fotografi original.
Bagi kreator di negara berkembang seperti Indonesia, dampaknya bahkan lebih berat.
Berbeda dengan perusahaan media besar di Barat yang memiliki diversifikasi pendapatan, banyak fotografer independen menggantungkan hidup pada asumsi bahwa permintaan terhadap visual autentik akan terus meningkat.
Kini mereka justru harus bersaing dengan konten sintetis yang dilatih menggunakan miliaran gambar buatan manusia selama bertahun-tahun.
Menurut Wempy, dampaknya melampaui sekadar bisnis.
“Ini bukan hanya soal fotografer kehilangan penghasilan, ini juga soal budaya, representasi, dan ingatan. Ketika AI membuat gambar tentang Indonesia, yang muncul sering kali adalah versi Indonesia berdasarkan asumsi algoritma, bukan pengalaman nyata. Bahayanya adalah kita perlahan menggantikan nuansa manusia dengan pendekatan sintetis ” tutupnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Warta IDN
Seedbacklink

