Dari Sepatu Platform hingga Denim, Batik Jadi Bahasa Valentine di Universitas Ciputra

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Surabaya – Hari Valentine di Universitas Ciputra Surabaya tahun ini tampil dengan pendekatan yang tak biasa. Alih-alih cokelat dan bunga, lorong kampus dipenuhi mahasiswa dan dosen yang mengenakan batik bernuansa merah dan pink.
Di tengah budaya global yang kerap memaknai Valentine secara individual dan konsumtif, Universitas Ciputra menghadirkan cara pandang yang berbeda. Valentine dimaknai sebagai ruang refleksi nilai kepedulian, kebersamaan, dan keberlanjutan budaya, dengan batik sebagai medium ekspresi sosial yang menyatukan sivitas akademika.
Pemilihan warna merah dan pink menjadi simbol yang kontekstual. Nuansa Valentine berpadu dengan motif tradisional Nusantara, menegaskan bahwa tradisi bukan entitas statis. Batik tampil sebagai praktik budaya yang hidup dan adaptif terhadap konteks zaman.
Menariknya, batik tidak dikenakan secara formal. Mahasiswa memadukannya dengan sepatu platform, denim, tote bag, hingga outer kasual, menciptakan lanskap visual kampus yang dinamis. Hal ini menegaskan bahwa batik dapat hadir selaras dengan gaya hidup generasi muda di ruang akademik.
Dosen Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra, Fabio Ricardo Toreh, menilai praktik tersebut memiliki makna penting dalam kesinambungan budaya.
“Ketika mahasiswa mengenakan batik bersama dosennya, terjadi proses pewarisan nilai lintas generasi. Budaya tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi dialami secara langsung sebagai bagian dari kehidupan akademik yang membentuk cara pandang generasi masa depan,” jelasnya.
Pendekatan tersebut selaras dengan pembelajaran berbasis pengalaman, di mana nilai budaya tidak diajarkan secara normatif, melainkan dihadirkan melalui praktik keseharian. Kampus berperan sebagai ruang yang memungkinkan budaya tumbuh secara alami.

Asisten Dosen Universitas Ciputra, Shendy Arie, menambahkan bahwa praktik sederhana yang konsisten dapat membangun kesadaran budaya mahasiswa.
“Kampus berperan sebagai ruang aman bagi mahasiswa untuk berproses dan menemukan makna budaya. Melalui praktik yang hadir dalam keseharian, nilai-nilai budaya dapat tumbuh secara alami tanpa harus diajarkan secara kaku,” tuturnya.
Dari sisi mahasiswa, pengalaman tersebut memunculkan perubahan cara pandang terhadap batik. Praba Nilotama, salah satu mahasiswa Universitas Ciputra, mengaku mulai melihat batik sebagai bagian dari identitas personal.
“Dipakai bersama teman-teman di kampus, batik terasa sebagai identitas budaya yang hidup dalam keseharian. Tidak lagi hanya untuk acara resmi, tetapi juga bagian dari aktivitas harian,” ungkapnya.
Perbedaan gaya, motif, dan cara pemakaian memperlihatkan dialog lintas generasi. Dosen membawa pemaknaan historis, sementara mahasiswa menghadirkan interpretasi yang kasual dan kontekstual. Dari pertemuan tersebut, batik tampil sebagai budaya yang terus bergerak tanpa kehilangan akarnya.
Lebih dari sekadar pilihan gaya, praktik ini juga mencerminkan kesadaran generasi muda terhadap keberlanjutan. Batik sebagai bagian dari tradisi slow fashion mengajarkan apresiasi terhadap proses dan nilai, menjadi alternatif di tengah dominasi fast fashion.
Dari ruang kampus, perayaan Valentine ini menunjukkan bagaimana tradisi menemukan relevansinya kembali. Dari sepatu platform hingga denim, batik hadir sebagai bahasa cinta yang menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

