Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Upwelling Datang Lebih Dini, Ikan KJA Jatiluhur Berguguran

Screenshot_2026-01-26-17-54-37-71_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7
Kondisi ikan di keramba jaring apung (KJA) Waduk Jatiluhur Purwakarta.

Jurnalis:

Kabar Baru, Purwakarta – Dampak cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi yang terjadi hampir sepekan terakhir memicu kematian ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Peristiwa ini dipicu oleh fenomena upwelling, yang menyebabkan ikan tidak mampu bertahan akibat perubahan kualitas air secara drastis.

Hingga kini, jumlah pasti ikan yang mati belum dapat dipastikan. Pasalnya, potensi kematian masih terus terjadi seiring kondisi cuaca yang belum stabil.

IMG_20260126_175545
Kabid Perikanan dan Budidaya Diskanak Purwakarta Kushartono

Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Purwakarta, Anton Kushartono, menjelaskan bahwa upwelling merupakan kejadian alami yang berulang setiap tahun, khususnya pada musim hujan.

“Upwelling itu kejadian fisiologis akibat perubahan densitas air. Suhu dingin di lapisan bawah naik dan bercampur dengan suhu hangat di permukaan. Kondisi ini dipicu cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi, sehingga ikan menjadi tidak kuat,” ujar Anton di ruang kerjanya, Senin (26/1).

Ia menyebutkan, Waduk Jatiluhur terbagi dalam empat zona. Namun, hingga saat ini laporan kematian ikan baru diterima dari Zona 1, yang meliputi wilayah Desa Cikembang, Desa Jatiluhur, dan Desa Cibinong.

“Belum semua zona terdampak. Laporan yang masuk ke kami baru dari Zona 1,” katanya.

Anton menegaskan bahwa fenomena upwelling umumnya terjadi secara rutin setiap tahun, mulai November hingga Maret, seiring perubahan cuaca. Oleh karena itu, pihaknya telah melakukan langkah antisipatif sejak jauh hari.

“Kami sudah menyampaikan surat imbauan kepada para pembudidaya sejak Agustus, kemudian diperkuat kembali pada Desember. Isinya berupa pencegahan, seperti mengurangi kepadatan tebar benih, mengendalikan jumlah ikan, serta penyesuaian masa panen,” jelasnya.

Ia juga mengimbau agar pembudidaya yang mengalami kematian ikan segera melakukan penanganan yang tepat.

“Ikan mati jangan dibiarkan mengapung di perairan. Sebaiknya segera diangkat dan dikubur atau dibawa ke daratan. Jika dibiarkan, justru bisa memicu pertumbuhan bakteri dan memperluas dampak kematian ikan,” tegas Anton.

Dalam menghadapi musim hujan, para pembudidaya di Waduk Jatiluhur umumnya telah melakukan berbagai upaya mitigasi. Siklus produksi ikan nila yang biasanya dilakukan empat kali panen dalam setahun, dikurangi menjadi tiga kali panen pada periode rawan upwelling.

“Biasanya pada bulan November pembudidaya mulai mengurangi bahkan menghentikan penebaran benih. Bagi yang sudah terlanjur menanam, mereka mempercepat masa panen saat cuaca mulai memburuk,” ungkapnya.

Selain itu, sebagian pembudidaya juga melakukan inovasi untuk menjaga ketersediaan oksigen di keramba, seperti menggunakan mesin alkon yang disambungkan dengan selang berlubang untuk menciptakan sirkulasi air.

“Cara ini cukup efektif untuk membantu sirkulasi dan mengurangi angka kematian ikan,” tambah Anton.

Anton berharap, meskipun kejadian ini terjadi secara berulang setiap tahun, para pembudidaya dapat terus meningkatkan kewaspadaan dan tidak berspekulasi berlebihan.

“Kami mengimbau agar pembudidaya cukup melakukan tiga kali masa panen dalam setahun. Jika mengikuti siklus tanam yang sudah diantisipasi, harapannya kerugian bisa ditekan dan tidak signifikan,” pungkasnya.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store