Gagal Berantas Judol, Menkomdigi Meutya Hafid Didesak Mundur

Jurnalis: Dian Annisa
Kabar Baru, Jakarta – Kinerja Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam memberantas judi online (judol) menuai kritik tajam.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GPA), Aminullah Siagian, secara terbuka mendesak Meutya Hafid untuk menanggalkan jabatannya sebagai Menkomdigi karena menganggap strategi kementerian tersebut tidak efektif.
Aminullah menilai pola kerja Komdigi selama ini cenderung reaktif dan tidak memiliki visi jangka panjang.
Menurutnya, tindakan pemblokiran domain yang dilakukan pemerintah setiap hari merupakan langkah sia-sia karena situs-situs baru muncul dengan sangat cepat.
Ia menyebut langkah tersebut lebih mirip sebagai reaksi panik ketimbang sebuah strategi pemberantasan yang matang.
Gagal Melindungi Rakyat
Kritik ini muncul karena judol kini telah berkembang menjadi kejahatan lintas negara yang merusak tatanan sosial masyarakat.
Aminullah menegaskan bahwa maraknya praktik haram tersebut menunjukkan kegagalan serius negara dalam melindungi rakyat dari kejahatan digital terorganisir.
Padahal, Presiden Prabowo Subianto secara konsisten menginstruksikan perang total terhadap judi online tanpa kompromi.
“Perintah Presiden Prabowo sangat jelas dan keras: berantas judi online tanpa toleransi. Namun, hampir satu tahun menjabat, Menkomdigi belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan yang nyata,” ujar Aminullah kepada Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Senin (19/01/2026).
Ia menambahkan bahwa judol justru semakin sistematis dan semakin menjerat masyarakat kelas bawah.
Absen Diplomasi Internasional
Selain masalah teknis, PP GPA juga menyoroti lemahnya diplomasi digital pemerintah.
Aminullah menyayangkan absennya kerja sama internasional yang agresif dengan negara-negara pusat industri judi online, seperti Kamboja.
Hingga saat ini, publik tidak melihat adanya tekanan bilateral yang kuat maupun kerja sama intelijen siber lintas negara yang masif untuk memutus mata rantai judol dari akarnya.
Aminullah menganggap kondisi ini sebagai ironi besar karena negara seolah-olah kalah langkah dari para bandar.
Ia memperingatkan bahwa kehancuran keluarga dan generasi muda akibat algoritma kejahatan digital terus berlangsung setiap hari.
Oleh karena itu, ia menuntut tanggung jawab moral dari pejabat terkait jika tidak mampu memberikan solusi nyata bagi perlindungan rakyat.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

