Kopri PB PMII Kutuk Keras Tragedi Barracuda, Tuntut Transparansi Penegakan Hukum

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Jakarta – Affan Kurniawan (21), driver ojek online, meninggal dunia setelah terlindas mobil taktis (Barracuda) Brimob saat unjuk rasa di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis malam (28/8). Peristiwa ini memicu gelombang kemarahan publik dan sorotan serius dari berbagai kalangan.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa secara resmi.
“Saya atas nama pribadi dan pemerintah Republik Indonesia mengucapkan turut berduka cita. Saya sangat prihatin dan sedih atas peristiwa ini,” ujarnya. Prabowo menegaskan, pemerintah akan menjamin kehidupan keluarga korban dan memberikan perhatian khusus bagi keluarga Affan.
Dari organisasi mahasiswa, Ketua Bidang Politik dan Kajian Strategis PB Kopri PMII, Gaby Tiara Maharani Pitoyo, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus mendesak penegakan hukum yang transparan.
“Hilangnya nyawa pengemudi ojol yang tengah mencari nafkah di tengah masa aksi adalah cerminan kegagalan negara dalam menjamin keselamatan warga sipil selama unjuk rasa,” tegasnya.
Gaby menekankan tiga poin penting:
-
Pemeriksaan anggota Brimob harus dilakukan secara transparan, objektif, dan akuntabel tanpa intervensi.
-
Evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pengamanan demonstrasi, khususnya penggunaan kendaraan taktis yang berisiko membahayakan warga.
-
Keadilan harus ditegakkan secara nyata, bukan sekadar formalitas.
“Keadilan harus mengalir jernih tanpa noda kepentingan,” tambahnya.
Kopri PB PMII menilai tragedi ini sebagai momentum memperjuangkan reformasi hak sipil. Mereka menegaskan, demonstrasi tidak boleh menjadi ajang yang mengancam nyawa warga. Selain itu, solidaritas lintas elemen masyarakat perlu diperkuat untuk mengawal proses hukum dan melindungi keselamatan sipil.
Gaby juga mengingatkan agar massa aksi tetap konsisten pada tuntutan utama, yakni penolakan kenaikan tunjangan DPR. Menurutnya, isu tersebut adalah inti perjuangan yang tidak boleh tenggelam di balik tragedi.