Penobatan Sombaya Berbek Nganjuk ke-X Hidupkan Warisan Sejarah Nusantara

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Kota Malang – Sejarah bukanlah sekadar catatan usang di atas kertas, melainkan sebuah denyut nadi yang terus mengalir melintasi generasi. Kesadaran untuk memanggil kembali akar identitas yang terpendam di bawah lapisan zaman terwujud nyata pada tanggal 04/04/2026. Dalam sebuah momentum spiritual yang diselimuti khidmat, Lembaga Adat Batesalapanga Ri Gowa Kesultanan Gowa secara resmi menobatkan Pangeran Syarif Muhammad Hanif Nasrul Rachman Daeng Masiga sebagai Sombaya Berbek Nganjuk ke-X.
Pengukuhan ini diselenggarakan di Athome Space Hall, Kota Malang, dan menganugerahkan gelar kebesaran I Yadullu Daeng Manggale Pangeran Raja Adipati Sosrokusumo IV Daeng Masiga. Acara ini dihadiri oleh perwakilan keluarga besar Kanjeng Jimat serta tokoh-tokoh Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan se-Malang Raya. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap acara, melainkan simbol persenyawaan dua sejarah besar nusantara. Pengukuhan Sombaya Berbek Nganjuk ke-X adalah pernyataan kultural yang menegaskan bahwa Kadipaten Berbek tidak pernah benar-benar hilang; nafasnya kini berdenyut kembali di tengah modernitas.
Acara sakral ini membawa pesan mendalam mengenai urgensi melestarikan warisan peradaban Berbek yang pernah menjadi mercusuar di Jawa Timur. Penobatan ini adalah medium untuk memperkenalkan kembali jati diri wilayah Nganjuk yang memiliki silsilah kepemimpinan agung. Silsilah ini secara unik dan magis menghubungkan tradisi kejuangan Kesultanan Gowa di Sulawesi Selatan dengan tata krama pemerintahan keraton di tanah Jawa. Pengukuhan ini adalah monumen pengingat bahwa kebesaran suatu daerah selalu ditopang oleh akar budaya dan sejarah leluhur yang kuat.
Keagungan Sombaya Berbek Nganjuk ke-X tidak bisa dilepaskan dari cikal bakal Kerajaan Berbek yang berakar kuat sejak tahun 1745. Pada mulanya, Berbek adalah wilayah Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, yang berfungsi sebagai daerah Mancanegara Wetan—penyangga kekuasaan pusat di sisi timur. Era keemasan wilayah ini mulai terukir jelas di bawah kepemimpinan PRA. Sosrokoesoemo I (Kanjeng Jimat) pada tahun 1760. Beliau meletakkan dasar tata kota tradisional Jawa dengan membangun masjid agung dan alun-alun.
Darah kepemimpinan Kanjeng Jimat sangat istimewa karena menghubungkannya dengan Karaeng Naba (Kyai Ageng Sulaiman bin Karaeng Galesong bin Sultan Hasanuddin). Estafet kepemimpinan ini terus dijaga dengan gigih. Setelah masa Kanjeng Jimat, pemerintahan dilanjutkan oleh PRA. Sosrodirjo. Meski dihadapkan pada dinamika Perjanjian Giyanti (1755) yang membelah Mataram, Berbek tetap bertahan di bawah naungan Kesultanan Yogyakarta.
Ujian berat datang di abad ke-19 pada masa kepemimpinan PRA. Sosrokoesoemo II (1831-1852), di mana Perjanjian Sepreh pasca Perang Diponegoro mengubah Berbek menjadi Afdeeling. Takhta kemudian diteruskan oleh RNG. Pringgodigdo, lalu PRA. Soemowilojo, hingga PRA. Sosrokoesoemo III (hingga 1901). Kendala geografis di kaki Gunung Wilis akhirnya melahirkan visi besar pada masa RMAA. Sosrohadikoesoemo (1901-1936) untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Nganjuk (Anjuk Ladang), sebuah dataran rendah yang subur.
Perpindahan atau Boyongan ini adalah simbol harapan kemajuan. Kini, keberadaan Nganjuk sebagai pusat kabupaten yang makmur adalah warisan langsung dari Kerajaan Berbek. Melalui penobatan Pangeran Syarif Muhammad Hanif Nasrul Rachman Daeng Masiga sebagai Raja Berbek ke-X, garis keturunan yang sah ini dihormati kembali. Nganjuk yang produktif saat ini merupakan perwujudan nyata dari perjalanan sejarah panjang yang tak pernah putus, dari kaki Gunung Wilis hingga ke masa depan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

