Menag Gaungkan Ukhuwah Makhlukiyah, Menyakiti Alam Berarti Menyakiti Diri Sendiri
Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Jakarta – Menteri Agama (Menag) Prof. Nasaruddin Umar membawa narasi baru dalam diskursus kerukunan di Indonesia. Pada malam puncak Harmony Award 2025 yang digelar di Hotel DoubleTree Kemayoran, Jakarta, Jumat (28/11/2025), Menag tidak hanya bicara soal toleransi antarmanusia, tetapi menyerukan perdamaian dengan alam semesta melalui konsep “Ekoteologi”.
Dalam pidato kebudayaannya yang hening dan mendalam, Menag mengajak para kepala daerah dan tokoh agama untuk memperluas definisi persaudaraan. Jika selama ini masyarakat akrab dengan istilah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), Menag memperkenalkan dimensi keempat yang tak kalah penting, yakni Ukhuwah Makhlukiyah atau persaudaraan sesama makhluk.
“Kita harus tambah dan ini yang paling penting adalah Ukhuwah Makhlukiyah, persaudaraan kita sebagai sesama makhluk. Tidak ada benda mati dalam pandangan agama. Tanya diri kita masing-masing, tanya kitab suci kita masing-masing, apakah enam agama ini mengenal benda mati? Jawabannya tidak,” tegas Menag di hadapan ratusan hadirin.
Menag kemudian mengutip filosofi luhur Tat Twam Asi dari ajaran Hindu dan Buddha yang bermakna “aku adalah engkau, engkau adalah aku”. Filosofi ini mengajarkan empati total, di mana menyakiti entitas lain—baik manusia, hewan, maupun alam—pada hakikatnya adalah menyakiti diri sendiri.
Ia memberikan ilustrasi konkret tentang bagaimana seharusnya manusia memperlakukan alam. “Wahai sungai, engkau adalah aku. Aku tidak suka yang kotor. Maka aku tidak boleh menjadikan engkau sebagai WC umum atau tong sampah umum. Jika falsafah pandangan hidup seperti ini diwujudkan, maka itulah sesungguhnya ekoteologi yang kita kembangkan di Kementerian Agama,” paparnya.
Konsep harmoni yang holistik ini menjadi jiwa dari penyelenggaraan Harmony Award 2025. Kementerian Agama ingin memastikan bahwa semangat kerukunan yang dibangun di daerah benar-benar mengakar kuat, tidak hanya dalam hubungan sosial tetapi juga dalam menjaga lingkungan hidup sebagai “Lukisan Tuhan”.
Semangat ini rupanya disambut positif oleh pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenag melaporkan bahwa partisipasi dalam ajang penghargaan tahun ini melonjak drastis, menandakan tingginya komitmen daerah dalam merawat nilai-nilai harmoni tersebut.
“Perlu kami laporkan kepada Bapak Menteri Agama dan semua hadirin sekalian, bahwa peserta yang ikut dalam Harmony Award tahun 2025 ini memperlihatkan jumlah partisipasi yang sangat signifikan. Pemda Provinsi diikuti 31 dari 38 Pemda Provinsi. Pemda Kabupaten dan Kota diikuti 328 dari 514 Pemda,” lapor Sekjen Kemenag.
Selain itu, partisipasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tingkat kabupaten/kota juga mencapai angka 400 dari 512 daerah. Sekjen menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan verifikasi ketat dan objektif untuk memastikan penghargaan diberikan kepada mereka yang benar-benar berdedikasi menciptakan kehidupan yang rukun dan damai.
Di akhir sambutannya, Menag kembali mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang paling plural di kolong langit ini. Keberagaman tersebut adalah anugerah yang harus dirawat dengan “menenggelamkan ego” dan mengedepankan kasih sayang kepada sesama makhluk. “Kenapa kita harus berbeda kalau bisa bersatu? Dan kenapa kita harus berkonflik kalau bisa damai? Hanya iblis yang mencita-citakan konflik itu sendiri,” pungkasnya.
Insight NTB
Berita Baru
Berita Utama
Serikat News
Suara Time
Daily Nusantara
Kabar Tren
IDN Vox
Portal Demokrasi
Lens IDN
Seedbacklink







