Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Membongkar Mitos Modernitas Barat, Seri Kelas Publik Dekolonisasi Ansorolog dan Eonoiaco Resmi Digelar

kabarbaru.co
Suasana kelas perdana Dekolonisasi Agama dan Masyarakat Indonesia yang digelar secara virtual. (Dok. Ist.).

Jurnalis:

Kabar Baru, Yogyakarta — Wacana dekolonial yang tengah berkembang di ranah akademik didorong untuk lebih membumi. Merespons hal tersebut, Ansorolog berkolaborasi dengan Eonoiaco menggelar Seri Kelas Publik bertajuk “Dekolonisasi Agama dan Masyarakat Indonesia” guna membedah upaya pelepasan pengaruh kolonial dari berbagai objek kajian, mulai dari struktur sosial hingga keagamaan.

Zainun Nur Hiasyam Tahrus, narasumber pada kelas perdana Pengantar Dekolonisasi Agama dan Sosiologi, Jumat (2/10/2026) malam, menegaskan bahwa langkah mendasar dari dekolonialitas adalah mengidentifikasi dan memutus cara pikir masyarakat dari pengaruh kolonial.

“Untuk mencapai dekolonitas, harus diketahui aspek kolonialitas. Memutus cara pikir dari asumsi kebenaran yang dikembangkan negara barat. Itu bukan kebenaran universal,” tegasnya.

Zainun menjelaskan bahwa dalih kolonial menjajah suatu wilayah kerap dibungkus dengan iming-iming keselamatan hingga modernitas, yang sebetulnya sekadar cerita buatan yang dipaksakan sebagai kebenaran universal. Oleh karena itu, dekolonial tak cukup sekadar memutus gaya hidup, melainkan harus diiringi praksis komunal.

“Saya harus memutus cara saya mengetahui dari kolonial ini dari sehari-hari. Kalau nggak, hanya jadi obrolan akademik, tidak berpengaruh. Jadi harus menghidupkan,” lanjut alumnus School of African and Oriental Studies (SOAS) University of London tersebut.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa dekolonisasi bukanlah dewesternisasi atau upaya menolak segala hal dari Barat secara membabi buta. Dekolonial menitikberatkan pada kedaulatan masyarakat yang memiliki partikularitas dalam memahami sesuatu melalui alam dan budayanya sendiri.

“Orang Jawa, orang Sunda, orang Papua mengetahui dengan caranya sendiri,” tutur penulis keislaman NU Online itu.

Sayangnya, ia melihat masyarakat masih sering terjebak dalam belenggu kolonial. “Kita masih belum banyak melakukan konstruksi baru asli dari rahim kebudayaan kita,” tambahnya.

Mengatasi ketertinggalan tersebut, Zainun mengutip pandangan Syed Farid Alatas tentang empat langkah dekolonisasi pengetahuan sosial: mempertanyakan status epistemologis konsep ilmu sosial, mengontekstualisasikan teori sosial pada realitas lokal, menciptakan teori baru untuk diglobalisasikan, serta mengakui keberagaman konteks sosial yang tak selalu bisa dijangkau oleh sebuah teori tunggal.

Mewakili pihak penyelenggara dari Ansorolog x Eonoiaco, Afrizal Qosim menyatakan bahwa kelas ini adalah ikhtiar untuk menjembatani pemikiran kritis dengan kesadaran kebudayaan di tengah masyarakat.

“Tujuan utama kami adalah membumikan wacana dekolonisasi agar ia tidak asing di telinga anak muda. Jangan sampai ada kesenjangan antara wacana besar yang sedang berkembang di dunia dengan pola perilaku dan keputusan politik-kultural yang kita ambil sehari-hari. Dekolonisasi harus menjadi alat baca yang hidup, yang lahir dari rahim kebudayaan kita sendiri,” ujarnya.

Ke depannya, kelas publik ini akan terus berlanjut dengan menghadirkan deretan akademisi dan pakar, seperti Lukman Hakim Bruno (Aktivis Dekolonial dan CRCS UGM), Proyek Dekolonial, Lien Iffah Naf’atu Fina (Mahasiswa PhD University of Chicago dan Dosen UIN Sunan Kalijaga), Zacky Khairul Umam (Filolog dan Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia), Geger Riyanto (Antropolog Universitas Indonesia), Ekky Imanjaya (Dosen Binus University), hingga Siti Maimunah (Politik Ekologi Feminis).

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store