Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Berhala Bernama HMI: Peringatan Milad bagi Kader yang Terlena Simbol

WhatsApp Image 2026-02-05 at 10.46.10

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) semestinya tidak berhenti sebagai perayaan seremonial, apalagi sekadar ritual nostalgia romantik tentang kejayaan masa lalu. Milad HMI ke 79 adalah momen evaluasi, saat organisasi menengok ke dalam dan kader berani bertanya secara jujur: masihkah HMI menjadi alat perjuangan nilai, atau justru telah menjelma menjadi tujuan itu sendiri?

Sebagai kader yang lahir dan dibentuk dalam tradisi HMI, Khoirul Ulum memandang Milad bukan sekadar hari lahir organisasi, melainkan peringatan moral bagi setiap kader untuk kembali menguji kejujuran niat dan arah gerak. Kegelisahan ini muncul ketika simbol-simbol organisasi—atribut, jabatan struktural, jejaring kekuasaan, dan status alumni—mulai dipuja berlebihan, sementara nilai keislaman dan perjuangan justru terpinggirkan.

Di titik inilah relevan istilah “berhala bernama HMI”. Ketika organisasi disakralkan, kritik dianggap ancaman, dan loyalitas simbolik lebih diutamakan daripada keberpihakan sosial, maka HMI berisiko kehilangan ruhnya. Padahal, HMI sejatinya hanyalah alat; ia mulia sejauh digunakan untuk menegakkan nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Menurut Khoirul Ulum, kader yang terlena simbol cenderung sibuk menjaga nama besar organisasi ketimbang merawat kepekaan sosial. Diskursus keumatan dan kebangsaan kerap dikalahkan oleh kalkulasi posisi, akses, dan kedekatan dengan kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, tradisi intelektual dan keberanian moral dua pilar utama kaderisasi HMI mengalami pengikisan perlahan namun pasti.

Fenomena ini patut menjadi peringatan serius. Ketika organisasi dijadikan tujuan akhir, kader berpotensi kehilangan daya kritis, bahkan terhadap dirinya sendiri. HMI yang seharusnya melahirkan insan Ulil Albab, justru terjebak dalam reproduksi simbol tanpa substansi. Idealisme tinggal slogan, sementara praksis sosial kian menjauh dari nilai perjuangan.

Milad HMI, bagi Khoirul Ulum, harus dimaknai sebagai momentum pembebasan dari penyembahan simbol. Keislaman tidak cukup diucapkan, keindonesiaan tidak selesai pada jargon, dan keilmuan tidak berhenti di ruang diskusi. Semua nilai itu menuntut keberanian untuk hadir di tengah realitas sosial: membela yang dilemahkan, mengoreksi ketidakadilan, dan menjaga jarak kritis dari kekuasaan.

Pada akhirnya, HMI akan tetap bermakna bukan karena namanya diagungkan, melainkan karena nilai yang dihidupkan oleh kadernya. Jika suatu saat simbol HMI runtuh, tetapi nilai keadilan, kejujuran, dan keberpihakan pada umat tetap hidup dalam diri kader, maka di situlah hakikat HMI sesungguhnya. Milad bukan tentang merayakan organisasi, melainkan memastikan organisasi tidak berubah menjadi berhala.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store