Bau Busuk di PT Garam Kalianget, Bupati Fauzi Gagal Mengatasi Masalah Sampah di Sumenep

Jurnalis: Nurisul Anwar
Kabar Baru, Madura – Kegagalan Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi, dalam menuntaskan krisis lingkungan kini terpampang nyata.
Lokasi tumpukan sampah yang membusuk dan dibiarkan berserakan terpantau berada di area perumahan PT Garam (Persero) Kalianget.
Kondisi ini menjadi bukti kuat buruknya manajemen kebersihan di bawah kepemimpinan dua periode Fauzi.
Lokasi yang berada di wilayah pesisir ini berdekatan langsung dengan permukiman padat warga.
Namun, Kepala DLH Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf, dan Camat Kalianget, Hakiki Maulana, justru memilih bungkam seribu bahasa saat redaksi meminta konfirmasi.

Sikap antikritik para pejabat ini mempertegas kesan bahwa pemerintah daerah hanya bekerja jika sebuah persoalan sudah viral di media sosial.
Fokus di Kota, Wilayah Kepulauan Terlantar
Krisis sampah di Kalianget hanyalah potret kecil dari ketimpangan pelayanan publik di Kabupaten Sumenep. Masyarakat kini menyoroti pola pembangunan Bupati Fauzi yang dinilai sangat pilih kasih.
Selama ini, anggaran dan perhatian pemerintah daerah tampak hanya tersedot untuk memoles wajah perkotaan demi citra politik, sementara wilayah pinggiran dan daerah kepulauan justru terabaikan.
Warga di berbagai pulau di Sumenep mengeluhkan minimnya solusi komprehensif untuk masalah infrastruktur dan sanitasi.
Padahal, masyarakat kepulauan memiliki hak konstitusional yang sama untuk menikmati lingkungan bersih dan sehat.
Kesenjangan ini memicu kemarahan publik yang menilai Bupati Fauzi gagal memberikan keadilan sosial bagi seluruh warga Sumenep, terutama mereka yang jauh dari pusat kota.
Masyarakat Tagih Janji Pelayanan Maksimal
Pencemaran di kawasan perumahan PT Garam Kalianget ini mengancam kesehatan masyarakat sekitar dan merusak ekosistem pesisir.
Sebagai pemimpin yang dipilih rakyat, Bupati Ahmad Fauzi memegang tanggung jawab penuh atas kinerja buruk bawahannya yang abai terhadap tugas.
Rakyat membayar pajak bukan untuk membiayai pejabat yang sombong, melainkan untuk mendapatkan pelayanan yang nyata dan merata.
Masyarakat mendesak adanya evaluasi total terhadap komitmen pelayanan publik di seluruh pelosok Sumenep.
Publik menuntut prestasi nyata, bukan sekadar pencitraan di pusat kota sementara sampah dan masalah lingkungan di wilayah seperti Kalianget dan kepulauan terus dibiarkan menggunung tanpa penanganan profesional.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

