Antre Berjam-jam Demi Paspor, Apakah Harus Begitu?

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Jakarta, 2026 — Setiap tahun, jutaan orang Indonesia mengajukan permohonan paspor — untuk umrah, liburan ke luar negeri, studi, hingga keperluan bisnis. Namun tidak sedikit yang pulang dari kantor imigrasi dengan tangan kosong hanya karena satu dokumen kurang, atau antrian yang habis sebelum giliran mereka tiba. Pertanyaannya: apakah proses ini memang serumit itu, atau ada hal-hal yang bisa diantisipasi sejak awal?
Berdasarkan pantauan di berbagai forum online dan grup komunitas perjalanan, keluhan paling sering muncul bukan soal sistemnya, melainkan soal persiapan. Pemohon datang dengan dokumen yang tidak lengkap, nama di KTP tidak sesuai akta lahir, atau tidak mengetahui bahwa jadwal antrean online sudah penuh hingga beberapa minggu ke depan. “Saya kira bisa langsung datang. Ternyata harus daftar dulu lewat aplikasi, dan slotnya sudah habis sampai dua minggu lagi,” ujar seorang pengguna di sebuah grup Facebook komunitas traveler.
Direktorat Jenderal Imigrasi sendiri sebenarnya telah menyederhanakan proses permohonan paspor melalui sistem antrian online berbasis aplikasi M-Paspor. Pemohon dapat memilih jadwal, mengunggah dokumen, dan melakukan pembayaran dari rumah. Namun meski teknologinya sudah ada, masih banyak yang gagal di tahap ini karena kurang memahami alurnya.
Apa Saja yang Paling Sering Jadi Masalah?
Para pemohon paspor pertama kali sering tersandung di tiga hal yang sama. Pertama, ketidaksesuaian data — misalnya nama atau tanggal lahir di KTP yang berbeda dengan akta kelahiran. Ini otomatis menghambat proses karena petugas imigrasi memerlukan kecocokan data lintas dokumen. Kedua, kelengkapan fotokopi dokumen — imigrasi mensyaratkan fotokopi dan dokumen asli sekaligus; datang hanya dengan salah satunya bisa membuat permohonan ditolak. Ketiga, tidak mengetahui perbedaan paspor biasa dan e-passport — yang keduanya memiliki prosedur dan biaya yang berbeda, meski tersedia di kantor imigrasi yang sama.
Untuk paspor elektronik atau e-passport, prosesnya identik dengan paspor biasa, namun chip di dalamnya memuat data biometrik yang memungkinkan akses lebih cepat di autogate beberapa negara seperti Jepang dan Korea. Biayanya memang sedikit lebih mahal, namun bagi yang sering bepergian ke negara-negara tersebut, manfaatnya sepadan.
Solusi yang Mulai Banyak Dicari
Di tengah kesibukan yang makin tinggi, sebagian masyarakat kini memilih menggunakan jasa pendampingan pengurusan paspor — bukan karena tidak mampu mengurusnya sendiri, tetapi karena ingin memastikan prosesnya berjalan tanpa hambatan sejak awal. Layanan semacam ini membantu memverifikasi kelengkapan dokumen, memandu pengisian formulir, hingga mendampingi proses di kantor imigrasi.
Salah satu penyedia layanan yang bergerak di bidang ini adalah AQU Consulting, yang melayani pendampingan pengurusan paspor bagi klien dari berbagai latar belakang. Manager Operasional AQU Consulting, Afifah Gabriela Sary, S.M., menyebut bahwa mayoritas klien yang datang ke mereka sebenarnya sudah pernah mencoba mengurus sendiri, namun gagal di tengah jalan.
“Hampir sebagian besar klien kami sebenarnya sudah pernah pergi ke imigrasi sendiri. Masalahnya ada di persiapan awal — dokumen kurang satu, data tidak cocok, atau tidak tahu cara daftar antrean online. Kami masuk justru untuk mencegah mereka harus bolak-balik.”
— Afifah Gabriela Sary, S.M., Manager Operasional AQU Consulting
Pendekatan seperti ini dinilai relevan khususnya bagi mereka yang memiliki waktu terbatas atau mengurus paspor untuk keperluan yang mendesak seperti umrah atau perjalanan dinas. “Terimakasih kepada Ibu Afifah dan team. Saya akan review AQU. Semoga Ibu dan team semua bertambah maju dan sejahtera selalu,” tulis salah satu klien mereka, Bapak Azim, dalam pesannya.
Tips Mengurus Paspor Tanpa Ribet
Bagi yang ingin mengurus paspor secara mandiri, ada beberapa langkah yang bisa mempercepat prosesnya. Pastikan seluruh data di KTP, KK, dan akta lahir konsisten sebelum mendaftar. Unduh aplikasi M-Paspor dan lakukan pengecekan ketersediaan slot minimal dua hingga tiga minggu sebelum kebutuhan. Persiapkan fotokopi dokumen lengkap meskipun petugas tidak memintanya secara eksplisit — lebih baik lebih daripada kurang. Dan terakhir, datanglah lebih awal dari jadwal yang tertera untuk menghindari antrian fisik yang bisa memanjang.
Bagi yang membutuhkan bantuan lebih lanjut atau ingin memastikan dokumen sudah benar sebelum datang ke imigrasi, informasi lebih lanjut tersedia melalui situs resmi AQU Consulting di www.aquconsulting.com.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

