Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Algoritma Media Sosial Picu Sensasionalisme, Persepsi Publik Terhadap Krisis Dunia

fjkytuuyyuyu
Dokumentasi pribadi : Agung Putra Mulyana, mahasiswa Ph.D Asia e University, Malaysia.

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta — Berbagai krisis dan konflik global yang terjadi di sejumlah kawasan dunia terus menjadi perhatian publik internasional. Ketegangan geopolitik, konflik berkepanjangan, serta krisis kemanusiaan tidak hanya hadir sebagai peristiwa politik dan sosial, tetapi juga sebagai arus informasi yang masif di ruang digital.

Di era media sosial, informasi mengenai krisis dunia banyak dikonsumsi publik melalui potongan video, gambar dramatis, dan narasi singkat yang beredar luas di berbagai platform. Kondisi ini dinilai memengaruhi cara masyarakat memahami realitas internasional secara utuh.

Mahasiswa Ph.D Asia e University (AeU) Malaysia program studi Social & Behavioural Science serta Pengamat Interaksi Media Digital Indonesia , Agung Putra Mulyana, menilai algoritma media sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk persepsi publik terhadap isu-isu global tersebut. Menurutnya, logika algoritma yang mengutamakan keterlibatan pengguna sering kali mendorong penyajian konten yang sensasional.

“Algoritma media sosial cenderung mendistorsi krisis global menjadi cerita-cerita sensasional. Publik lebih sering disuguhi potongan emosi seperti kemarahan, ketakutan, atau simpati berlebihan dibandingkan pemahaman yang komprehensif terhadap konteks konflik internasional yang telah beredar,” ujar Agung.

Ia menjelaskan, dalam banyak kasus krisis dunia, potongan video konflik beredar tanpa keterangan waktu, lokasi, dan latar belakang yang memadai. Bahkan, tidak sedikit dokumentasi lama yang kembali viral dan dipersepsikan sebagai peristiwa terkini oleh publik yang akhirnya membuat gaduh.

“Ketika isu global dikonsumsi melalui potongan konten visual yang terlepas dari konteks, masyarakat membangun opini berdasarkan reaksi emosional sesaat, bukan analisis rasional atas realitas yang sebenarnya,” jelasnya.

Agung menambahkan, fenomena tersebut diperkuat oleh temuan riset internasional. Ia merujuk pada penelitian Elon University, Amerika Serikat, yang mengkaji dampak algoritma terhadap ekosistem informasi publik.

“Penelitian dari Elon University menunjukkan bahwa para pakar teknologi memprediksi algoritma akan terus berkembang dalam memengaruhi cara orang berinteraksi dengan informasi. Namun, algoritma juga berpotensi mengurangi eksposur publik terhadap beragam ide dan informasi yang dapat diandalkan, serta menciptakan filter bubble yang membatasi pemahaman masyarakat terhadap realitas global yang kompleks,” ungkap Agung.

Menurutnya, kondisi filter bubble membuat publik cenderung hanya terpapar pada konten yang sejalan dengan preferensi, emosi, dan sudut pandang tertentu. Akibatnya, isu-isu global yang sejatinya kompleks sering kali dipersempit menjadi narasi hitam dan putih.

“Dalam jangka panjang, situasi ini berisiko memicu polarisasi opini dan kelelahan empati. Krisis dunia dipahami sebagai tontonan yang cepat berganti, bukan sebagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan pemahaman dan solusi berkelanjutan,” katanya.

Agung menekankan pentingnya peningkatan literasi media digital di tengah derasnya arus informasi global. Ia juga mendorong media arus utama dan pemangku kepentingan untuk lebih kritis terhadap peran algoritma dalam membentuk kualitas informasi publik.

“Tantangan komunikasi global hari ini bukan hanya pada krisis itu sendiri, tetapi pada bagaimana krisis tersebut disajikan dan dipahami melalui perantara algoritma media sosial,” pungkasnya.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store