90% Calon Pekerja ke Jepang Gagal karena Hal Ini!
Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Jakarta – Jepang masih menjadi salah satu negara tujuan favorit bagi tenaga kerja Indonesia. Stabilitas ekonomi, sistem kerja yang terstruktur, serta peluang karier jangka panjang membuat banyak pencari kerja tertarik untuk berkarier di Negeri Sakura. Namun, tingginya minat tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keberhasilan lolos seleksi.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar calon pekerja justru gagal pada tahap awal, yakni wawancara kerja atau Mensetsu. Menariknya, kegagalan ini bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan teknis, melainkan oleh kurangnya kesiapan komunikasi dan kemampuan percakapan bahasa Jepang (Kaiwa).
Mensetsu Jadi Titik Penentu Kelulusan
Mensetsu (面接) merupakan tahapan seleksi yang sangat krusial dalam proses rekrutmen kerja di Jepang. Berbeda dengan wawancara kerja pada umumnya, Mensetsu tidak hanya menilai isi jawaban kandidat, tetapi juga cara penyampaian, sikap tubuh, pemilihan kata, hingga kesesuaian kandidat dengan budaya kerja perusahaan Jepang.
Kesalahan kecil seperti penggunaan bahasa yang terlalu informal, jawaban yang tidak terstruktur, atau ketidakmampuan memahami maksud pertanyaan sering kali berdampak besar pada penilaian akhir. Oleh sebab itu, persiapan khusus untuk menghadapi wawancara kerja menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Program seperti Kelas Persiapan Mensetsu hadir untuk membantu calon pekerja memahami pola pertanyaan, simulasi wawancara, serta etika komunikasi profesional yang sesuai dengan standar perusahaan Jepang.
Kemampuan Kaiwa Sering Diremehkan
Selain Mensetsu, kemampuan Kaiwa juga menjadi faktor penting yang kerap dianggap sepele. Banyak calon pekerja merasa cukup menguasai tata bahasa dan kosakata dasar, tanpa menyadari bahwa dunia kerja Jepang menuntut kelancaran berbicara dan pemahaman konteks sosial.
Dalam lingkungan kerja, pekerja dituntut mampu menyampaikan pendapat, menerima instruksi, serta berkomunikasi dengan atasan dan rekan kerja secara sopan dan efektif. Ketidaktepatan dalam berkomunikasi dapat memicu miskomunikasi hingga penilaian negatif terhadap profesionalisme pekerja asing. Oleh karena itu, pelatihan yang berfokus pada praktik percakapan intensif, seperti Kelas Intensive Kaiwa, menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi lisan secara nyata.
Banyak Kandidat Baru Sadar Setelah Gagal
Tidak sedikit calon pekerja yang baru menyadari pentingnya Mensetsu dan Kaiwa setelah mengalami kegagalan berulang kali. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa kemampuan teknis merupakan faktor utama dalam seleksi kerja. Padahal, dalam sistem rekrutmen Jepang, kemampuan komunikasi dan sikap profesional sering kali menjadi penilaian awal sebelum aspek teknis dipertimbangkan.
Tanpa kemampuan Kaiwa yang memadai, kandidat akan kesulitan menjelaskan pengalaman kerja, menunjukkan motivasi, dan membangun kesan positif saat wawancara. Sebaliknya, persiapan Mensetsu yang baik tanpa didukung kemampuan percakapan yang lancar juga tidak akan memberikan hasil maksimal.
Kesimpulan
Bekerja di Jepang bukan hanya soal keahlian teknis, tetapi juga tentang kesiapan komunikasi dan mentalitas profesional. Mensetsu menjadi ujian karakter dan sikap, sementara Kaiwa berperan sebagai alat utama untuk menunjukkan kompetensi tersebut. Oleh karena itu, persiapan yang terarah dan terintegrasi menjadi langkah penting bagi calon pekerja yang ingin meningkatkan peluang sukses berkarier di Jepang.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

