TPST Wringinanom Gresik Jadi Contoh TPS Mandiri di Jawa Timur

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Gresik — Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Wringinanom, Kabupaten Gresik, dinilai layak menjadi rujukan pengelolaan sampah mandiri di Jawa Timur. TPST ini mampu membiayai operasionalnya secara swadaya, tanpa bergantung pada anggaran pemerintah daerah.
”Saya kagum TPS Wringinanom Gresik secara mandiri bisa membayari layanan operasional TPS nya, karena di surabaya TPS nya full dibiayai oleh APBD Kota Surabaya,” ungkap Delima Prischa Cahya Purnama dari Bappeko Surabaya.
Penilaian tersebut mengemuka dalam hari pertama Zero Waste Academy yang digelar ECOTON Foundation bersama Aliansi Zerowaste Indonesia (AZWI) dan Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA), Rabu (28/1/2025). Kegiatan ini diikuti lebih dari 50 peserta dari 12 kota dan kabupaten di Pulau Jawa, melibatkan unsur Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta organisasi lingkungan.
Zero Waste Academy dibuka oleh Direktur ECOTON Foundation Dr. Daru Setyo Rini, M.Si, bersama Camat Wringinanom Arditra Risdiansah, Kepala Desa Wringinanom Yoko, serta Ketua KSM TPST 3R Wringinanom Abdul Rokhim.
Dalam sambutannya, Daru menegaskan krisis sampah tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi hilir.
“Zero Waste Academy dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas sektor. Kami ingin mempertemukan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pengelola TPS 3R agar belajar langsung dari praktik nyata. Harapannya, peserta pulang tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga rencana aksi konkret yang bisa diintegrasikan ke dalam kebijakan daerah,” ujarnya.
Usai pembukaan, peserta diajak mengunjungi rumah warga Desa Wringinanom yang telah menerapkan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumber. Praktik ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga dapat dilakukan secara sederhana sekaligus memberi manfaat ekonomi.
Titin, salah satu nasabah TPST 3R Wringinanom, menyebut pemilahan sampah justru menguntungkan warga.
“Memilah sampah itu ternyata sangat mudah dan justru menguntungkan. Selain itu dengan memilah kami mendapatkan diskon untuk membeli produk refillin seperti sabun tanpa plastik sekali pakai yang kami gunakan sehari-hari, jadi kita mengurangi sampah plastik kemasan sekali pakai terutama sachet,” ungkapnya.
Peserta kemudian mempelajari langsung sistem pengelolaan di TPST 3R Wringinanom, mulai dari pemilahan spesifik, alur pengolahan, hingga pencatatan administrasi. Mereka juga melihat teknologi pengomposan sederhana menggunakan lubang tanah yang dinilai murah dan mudah diterapkan di tingkat desa.
Eni, perwakilan DLH Kota Batu, menilai metode tersebut relevan untuk direplikasi.
“Metode pengomposan sederhana ini sangat relevan untuk diterapkan di TPS 3R desa maupun kawasan. Biayanya rendah, teknologinya mudah dipahami masyarakat, tetapi dampaknya besar dalam mengurangi sampah yang berakhir di TPA,” ujarnya.
Diskusi selanjutnya menyoroti aspek kelembagaan dan pendanaan bersama KSM TPST 3R Wringinanom. Pengelolaan sampah, menurut peserta, menuntut tata kelola yang kuat dan transparan agar sistem berkelanjutan.
Abdul Rokhim mengungkap tantangan yang dihadapi pengelola.
“Menjadi ketua KSM memiliki tantangan tersendiri, mulai dari membangun kepercayaan warga, menjaga konsistensi pemilahan sampah, hingga mengelola administrasi dan keuangan agar tetap transparan. Namun, ketika sistem berjalan dan masyarakat merasakan manfaatnya, tantangan itu bisa dilalui bersama, yang penting adalah dukungan regulasi kepala desa terkait penetapan tarif dan pekerja yang gotong royong,” jelasnya.
Pada sesi berikutnya, ECOTON memaparkan Methane Reduce Action Plan yang akan mendampingi tiga kota dan kabupaten menyusun rencana pengurangan emisi gas metana dari sektor sampah, khususnya di TPA.
”Rencana aksi ini diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan daerah, seperti Musrenbang, RPJMD, serta didukung melalui alokasi APBD. Mengingat sekitar 60% timbulan sampah merupakan sampah organik sisa makanan, maka pengelolaan sampah organik di sumber menjadi kunci agar tidak seluruhnya berakhir di TPA dan memicu emisi metana,” jelas Amirudin Muttaqin dari ECOTON.
Hari pertama ditutup dengan kunjungan ke kantor ECOTON, termasuk unit bisnis Refillin dan Laboratorium Mikroplastik. Peserta melihat langsung hasil riset mikroplastik, termasuk sampel mikroplastik udara akibat praktik pembakaran sampah terbuka.
Titik, pengelola TPS 3R Oro-Oro Ombo, Kota Batu, mengaku terkejut dengan temuan tersebut.
“Saya tidak menyangka bahwa pembakaran sampah bisa menghasilkan mikroplastik di udara yang berisiko terhirup manusia. Ini membuka mata kami bahwa pengelolaan sampah yang salah dampaknya bukan hanya lingkungan, tapi juga kesehatan,” katanya.
Zero Waste Academy akan berlangsung selama tiga hari di Kabupaten Gresik dan Kota Kediri. Program ini diharapkan mendorong lahirnya kebijakan dan praktik nyata pengelolaan sampah berbasis sumber sebagai langkah menuju target Indonesia Bebas Sampah 2030.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

