Tancap Gas Target 100 Hari, Dirjen Pesantren Kebut Pemisahan Anggaran hingga Transformasi Data

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Jakarta — Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Basnang Said, menginstruksikan seluruh jajarannya di pusat dan daerah untuk bergerak cepat menuntaskan tugas prioritas dalam 100 hari ke depan. Tingginya ekspektasi publik terhadap direktorat ini menuntut capaian nyata, mulai dari kemandirian anggaran hingga penciptaan pesantren unggulan.
Arahan tersebut ditegaskan Basnang dalam Rapat Koordinasi Ditjen Pesantren dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag di Grand Hotel Miami, Jumat (2/10/2026). Ia menyebut besarnya harapan publik tecermin dari kehadiran seluruh pejabat eselon I Kemenag pada pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) baru-baru ini.
“Harapan kita, dalam 100 hari ke depan seluruh tugas dapat dijalankan dengan baik,” ujar Basnang.
Salah satu indikator keberhasilan yang dipatok adalah mewujudkan pesantren dengan kapasitas lebih dari 1.000 santri sebagai satuan pendidikan unggulan. Target ini dirancang agar selaras dengan program prioritas pemerintahan Kabinet Merah Putih.
Namun, laju program ini dihadapkan pada tantangan administratif. Saat ini, pos anggaran Ditjen Pesantren masih menginduk pada Ditjen Pendidikan Islam. Basnang secara khusus meminta Sekretaris Ditjen Pesantren untuk bekerja keras mengupayakan alokasi anggaran tersendiri, sementara unit eselon II diminta mendesain program sektoral, termasuk kelanjutan beasiswa seperti PBSB.
“Sebagian program akan dikelola di pusat, sebagian lagi dilaksanakan di daerah. Dengan komitmen bersama, seluruh program dapat dijalankan jika anggaran telah tersedia di Ditjen Pesantren,” tegasnya.
Di sektor kelembagaan, Basnang mendorong pembentukan nomenklatur khusus pesantren di tingkat wilayah, mengingat saat ini struktur tersebut baru terpusat di Jakarta. Usulan ini akan dibahas bersama Menteri Agama dan Biro Organisasi dan Tata Laksana (Ortala), disusul dengan masa transisi penataan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK).
Selain anggaran dan struktur, Rakor tersebut mematangkan tujuh agenda strategis ke depan:
- Migrasi Basis Data: Data pesantren dari sistem EMIS akan dipindahkan ke sistem baru bernama SIMTREN untuk akurasi terpusat.
- Penguatan Ekosistem: Optimalisasi fungsi pengasuhan dan dakwah, serta mendorong kemandirian dan konsep ekopesantren.
- Regulasi Tipologi: Penyusunan aturan pemetaan kategori pesantren pada 2027, dengan fokus utama pada pengembangan infrastruktur sanitasi.
- Kesehatan Santri: Menjalin kerja sama lintas sektoral dengan kementerian/lembaga kesehatan guna menindaklanjuti arahan Menag terkait standardisasi sanitasi dan layanan medis.
- Transmigrasi Alumni: Program pemberdayaan lulusan pesantren melalui skema transmigrasi untuk membangun desa-desa di luar Pulau Jawa, sekaligus menyiarkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang rahmatan lil ‘alamin.
- Semarak Hari Santri: Menggelar kompetisi menulis surat untuk Presiden guna memompa kepercayaan diri dan cita-cita kebangsaan para santri.
- Rakernas 2026: Konsolidasi nasional bersama para Kepala Bidang se-Indonesia pada awal Desember mendatang untuk merancang cetak biru program lanjutan.
Mengakhiri arahannya, Basnang mengapresiasi iklim kompetitif para Kepala Kantor Kemenag dalam membangun ekosistem pesantren di daerah masing-masing. Ia memberikan lampu hijau bagi jajarannya untuk berinovasi sepanjang tidak menabrak aturan hukum yang berlaku.
“Jangan sombong. Tetap terbuka berdialog dengan masyarakat, sekecil apa pun permintaan yang disampaikan, agar seluruh ikhtiar ini berjalan dengan berkah,” pungkas Basnang.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
