Strategi Pemberdayaan Perempuan Hindu Bali Berbasis Literasi Digital
- 12/02/2026 - 13:39
- |
- Subscribe


Jurnalis: Pengki Djoha
Disusun oleh: SHANTI Team
Ketua Tim: I Gusti Putu Sutrisna Indrawan
Anggota: Ni Ketut Ayu Ratih Antari, S.; Luh Puniayogi Suaryani
Kabar Baru, Gorontalo — Upaya penguatan peran perempuan Hindu Bali kembali mendapat perhatian melalui gagasan inovatif bertajuk SHANTI (Shankara Sakti): Strategi Berdikari Perempuan Hindu Bali Secara Holistik Berbasis Literasi Digital dan Kearifan Lokal. Program ini dirancang sebagai solusi strategis untuk menjawab kesenjangan antara ajaran teologis Hindu yang memuliakan perempuan dan praktik sosial yang masih dipengaruhi sistem patriarki.
Tim penyusun yang tergabung dalam SHANTI Team menyoroti bahwa secara filosofis, perempuan dalam ajaran Hindu diposisikan sebagai sakti — kekuatan esensial yang setara dan saling melengkapi dengan laki-laki dalam menjalankan dharma. Konsep Siwa–Sakti, Ardhanariswari, hingga ajaran dalam Manawa Dharmasastra menegaskan bahwa perempuan bukan entitas subordinat, melainkan mitra sejajar.
Namun dalam realitas sosial masyarakat Bali yang menganut sistem patrilineal, perempuan masih menghadapi keterbatasan dalam ruang kepemimpinan adat, pewarisan, serta forum pengambilan keputusan seperti ngrembug atau paruman. Ketimpangan ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga ideologis akibat normalisasi beban ganda dan internalisasi nilai pengabdian tanpa pengakuan formal.
Kesenjangan Ideal dan Aktual
Berdasarkan hasil studi literatur dan wawancara lintas generasi dengan perempuan Hindu Bali, baik yang menetap di Bali maupun di perantauan, ditemukan adanya kesenjangan signifikan antara kondisi ideal dan aktual.
Secara ideal, perempuan dan laki-laki diposisikan sejajar dan komplementer. Namun dalam praktiknya, perempuan lebih banyak berperan sebagai pelaksana tradisi—membuat banten, ngayah di pura, menyiapkan upacara, serta menjalankan tugas domestik—tanpa keterlibatan signifikan dalam pengambilan keputusan strategis.
Wawancara dengan responden dari Gianyar hingga perempuan Bali yang tergabung dalam WHDI di Jakarta menunjukkan pola yang konsisten: perempuan memiliki kontribusi besar dalam ritual dan sosial, tetapi posisi formal dalam struktur adat masih didominasi laki-laki. Generasi tua cenderung menerima kondisi tersebut sebagai “kodrat”, sementara generasi yang lebih muda mulai melihat adanya kebutuhan perubahan yang lebih setara.
Program SHANTI: Solusi Holistik dan Kontekstual
Sebagai solusi, tim merumuskan program SHANTI (Shankara Sakti). Dalam bahasa Sanskerta, Shanti berarti kedamaian dan kesejahteraan batin, sementara Shankara Sakti dimaknai sebagai pembawa kebahagiaan melalui kekuatan perempuan.
Program ini berbasis pada dua pilar utama: literasi digital dan kearifan lokal, serta dijalankan melalui tiga subprogram utama:
1. PESID (Pasraman Hybrid)
Program ini berfungsi sebagai wadah penguatan literasi agama dan budaya melalui sistem luring dan daring. Materi meliputi pelatihan mejejaitan, mekidung, megambel, hingga sastra Hindu. Platform digital SHANTI menyediakan video pembelajaran yang dapat diakses kapan saja, bahkan dirancang dengan sistem gamifikasi berupa “Poin Suksma” sebagai bentuk apresiasi partisipasi.
2. SIKEB (Srikandi Kelas Bisnis)
SIKEB difokuskan pada pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pelatihan kewirausahaan dan digitalisasi usaha. Program ini menghadirkan talkshow, workshop, serta marketplace digital pada website SHANTI untuk memasarkan produk berbasis budaya lokal. Tujuannya adalah menciptakan kemandirian ekonomi kolektif tanpa meninggalkan nilai adat.
3. GELUNG DESA (Gelanggang Unggulan Desa)
GELUNG DESA menjadi ruang aktualisasi dan kompetisi berbasis budaya di tingkat banjar atau desa. Kegiatan seperti lomba tabuh, menari, membuat lawar, hingga gebogan dirancang untuk meningkatkan soft skills, hard skills, dan life skills perempuan Hindu Bali sekaligus memperkuat identitas budaya.
Sinergi Stakeholder dan Strategi POAC
Keberhasilan program SHANTI didukung sinergi multi-stakeholder, mulai dari desa adat, banjar, WHDI, PHDI, Pasraman, pemerintah daerah, hingga keluarga sebagai unit sosial terkecil. Program ini dirancang menggunakan kerangka manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) yang dilengkapi evaluasi partisipatif.
Pendekatan ini memastikan bahwa penguatan peran perempuan tidak bersifat konfrontatif terhadap budaya patriarki, melainkan transformasional dan kontekstual. Evaluasi tidak hanya mengukur capaian program secara kuantitatif, tetapi juga perubahan relasi kuasa, keberanian bersuara, dan legitimasi perempuan dalam ruang publik adat.
Tantangan dan Harapan
Analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan program terletak pada landasan teologis yang kuat dan pendekatan holistik. Namun, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan literasi digital pada generasi lanjut, potensi resistensi budaya, serta kendala infrastruktur internet di pelosok desa.
Untuk itu, strategi komunikasi ditekankan pada filosofi Shankara Sakti sebagai penguatan keluarga dan adat, bukan perlawanan terhadap laki-laki. Pendekatan mentoring lintas generasi juga dirancang untuk menjembatani kesenjangan digital.
Melalui SHANTI, tim berharap tercipta transformasi sosial yang gradual dan berkelanjutan, di mana perempuan Hindu Bali mampu berdikari secara spiritual, sosial, dan ekonomi tanpa kehilangan akar budaya.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi dapat diuji coba melalui pilot project di tingkat banjar sebelum diimplementasikan secara luas demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Bali yang seutuhnya.
“Om Santih Santih Santih Om.”
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink
