Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Ramadhan Bukan Sekadar Lapar-Haus! Hindari Jempol Beracun di Medsos

Salinan dari Desain Tanpa Judul (7)
Ustadz Muhammad Assad saat bertausiah di depan jamaahnya (Dok: Instagram).

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Menyambut kehadiran Ramadhan 2026, umat Islam tidak hanya bersiap menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menata ulang respons emosional dalam kehidupan.

Ustadz Muhammad Assad menekankan bahwa esensi terdalam bulan suci ini terletak pada kemampuan seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih adem, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Menurut Assad, makna adem bukan sekadar menciptakan suasana tenang atau memperlambat ritme hidup.

Lebih dari itu, ia mendefinisikan adem sebagai kekuatan untuk menahan diri, menenangkan hati, serta pikiran agar tidak mudah terpancing melakukan hal negatif yang di luar Ramadhan kerap dianggap biasa.

“Di bulan Ramadhan, kita tidak hanya berpuasa menahan lapar dan haus. Kita harus bisa mengademin hati untuk tidak melakukan hal-hal yang biasanya kita lakukan di bulan lain yang tidak baik,” ujar Assad dalam bincang-bincang Ngadem Sore bareng Aqua di Jakarta.

Kendalikan Jempol di Media Sosial

Dai nasional yang juga pengusaha muda ini menyoroti kebiasaan buruk yang marak terjadi saat ini, seperti kemudahan jari bergerak memberikan komentar negatif atau bergosip di media sosial.

Bagi Assad, Ramadhan 2026 harus menjadi momentum emas untuk mengendalikan respons tersebut.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, bukan sekadar menurunkan berat badan. Takwa yang sesungguhnya harus tercermin dalam hubungan antarmanusia.

Assad mengingatkan bahwa ibadah seseorang belum utuh jika lisannya tidak terjaga dan hatinya tak kunjung teduh.

“Bagaimana mungkin hubungan dengan Allah baik, tapi hubungan dengan manusia rusak? Itu bukan esensi ibadahnya,” tandas pria lulusan Hamad bin Khalifa University, Qatar tersebut.

Ramadhan Sebagai Kawah Candradimuka

Assad mengibaratkan puasa sebagai pelatihan atau training selama 30 hari sebagai modal menghadapi 11 bulan berikutnya.

Latihan ini sangat relevan untuk membentengi diri dari godaan gibah di lingkungan kerja maupun pertemanan.

Ia merujuk pada pesan Al-Qur’an bahwa gibah serupa dengan memakan bangkai saudara sendiri.

Dalam menghadapi ujian hidup, penulis buku Sedekah Super Stories ini menyarankan dua solusi utama sesuai tuntunan agama, yakni sabar dan salat.

Menurutnya, sabar secara otomatis membawa ketenangan (adem), sementara salat sebagai bentuk zikir akan membuat hati senantiasa tenteram.

Jaga Keseimbangan Fisik dan Stamina

Meski fokus pada kekuatan spiritual, Assad mengingatkan umat agar tidak melupakan kesiapan fisik.

Ia menyebut ibadah Ramadhan sebagai maraton, bukan sprint, sehingga membutuhkan stamina yang terjaga hingga garis finis.

Mengikuti sunnah Rasulullah, ia menyarankan pembagian porsi perut yang seimbang: sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk udara.

Assad juga menekankan pentingnya menjaga hidrasi tubuh dengan mengatur pola minum saat sahur dan berbuka.

Tubuh yang sehat akan mendukung kelancaran aktivitas harian sekaligus kekhusyukan ibadah sepanjang bulan suci.

Ia menutup pesannya dengan mengutip hadis Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Puncak dari “adem” di bulan Ramadhan adalah ketika ketenangan hati seseorang mampu memancarkan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store