Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Ketika Satu Video Terasa Cukup untuk Menilai dalam Film Budi Pekerti

kjhgeeee
Sebuah momen yang terekam bisa berubah menjadi penilaian publik dalam hitungan jam.

Editor:

Kabar Baru, Jakarta – Akhir-akhir ini, rasanya kita semakin sering melihat seseorang “jatuh” hanya karena satu video. Sebuah rekaman singkat bisa beredar begitu cepat, berpindah dari satu layar ke layar lain, lalu disambut komentar yang datang bertubi-tubi. Banyak orang merasa sudah cukup melihat beberapa detik untuk langsung menilai, seolah potongan kecil itu sudah mewakili keseluruhan cerita. Sementara itu, penjelasan yang lebih utuh sering kali tertinggal, atau bahkan tidak lagi dianggap penting.

Pengalaman itu terasa dekat ketika menonton film Budi Pekerti. Film ini tidak menghadirkan konflik yang berisik atau penuh kejutan. Justru sebaliknya, ceritanya berjalan tenang, mengikuti satu kejadian yang sebenarnya sederhana yaitu seorang guru yang kehilangan kesabaran di ruang publik, direkam, lalu videonya menyebar luas. Dari situ, hidupnya perlahan berubah bukan hanya karena kejadian itu sendiri, tetapi karena cara orang lain melihatnya.

Di titik inilah film ini terasa sangat relevan dengan realitas. Ketika kita melihat bagaimana video dalam cerita menyebar begitu cepat dan langsung memicu reaksi public. Data dari DataReportal dan We Are Social menunjukkan bahwa pada awal 2025 terdapat sekitar 143 juta pengguna media sosial di Indonesia. Artinya, situasi yang ada di dalam film ketika sebuah video yang dengan cepat menjangkau banyak orang bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, yang ditunjukkan film ini terasa seperti versi yang lebih personal dari apa yang sebenarnya sedang terjadi secara luas. Laporan Pew Research Center pada 2023 menemukan bahwa informasi yang belum terverifikasi masih sering beredar dan dikonsumsi secara luas di internet. Jika dikaitkan dengan film, ini menjelaskan mengapa tokoh di dalamnya begitu cepat dihakimi. Bukan karena semua orang tahu kebenarannya, tetapi karena banyak orang merasa cukup dengan apa yang mereka lihat sekilas.

Di sini hubungan antara film dan realitas terasa semakin jelas. Video dalam Budi Pekerti bukan hanya menyebar tetapi juga ditafsirkan, dipotong maknanya, lalu diperkuat oleh reaksi orang-orang yang ikut berkomentar dan membagikannya. Data tentang perilaku pengguna internet tadi seperti memberi konteks bahwa yang terjadi pada tokoh film itu bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari pola yang lebih besar.

Hal yang membuat situasinya semakin rumit, reaksi publik sering kali tidak memberi ruang untuk jeda. Dalam film, tekanan datang bukan hanya dari video itu sendiri, tetapi dari gelombang respons yang terus berdatangan. Hal ini terasa selaras dengan bagaimana media sosial bekerja hari ini yaitu semakin cepat sesuatu memicu emosi, semakin besar peluangnya untuk terus menyebar. Pada titik ini, data tentang jumlah pengguna dan perilaku konsumsi informasi bukan lagi sekadar angka, tetapi penjelasan mengapa tekanan itu bisa terasa begitu besar.

Film Budi Pekerti ini terasa kuat bukan karena dramanya dibuat-buat, melainkan karena semuanya terasa masuk akal. Cara bertuturnya sederhana, tidak terburu-buru, seolah memberi waktu bagi penonton untuk melihat bagaimana satu peristiwa kecil bisa membesar. Akting para pemainnya pun terasa wajar, sehingga emosi yang muncul tidak terasa berlebihan. Justru karena terasa dekat, dampaknya jadi lebih mendalam.

Di sinilah ketidakseimbangan itu terasa. Kita hidup di zaman ketika akses informasi begitu luas, tetapi pemahaman tidak selalu ikut berkembang. Kita bisa melihat banyak hal, tetapi tidak selalu benar-benar mengerti. Dalam film ini, satu momen kecil perlahan menghapus cerita panjang seseorang. Jika dikaitkan dengan data yang ada, kita bisa melihat bahwa kondisi seperti ini bukan pengecualian melainkan sesuatu yang berpotensi terjadi berulang.

Menariknya, film ini tidak buru-buru menunjuk siapa yang harus disalahkan. Tokohnya tidak digambarkan sepenuhnya benar, tetapi juga tidak pantas menerima semua yang terjadi padanya. Di sisi lain, publik juga tidak digambarkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya kejam. Namun, sesuatu yang lebih kompleks ada di balik semua itu yaitu cara kita bereaksi, kebiasaan kita di media sosial, dan dorongan untuk ikut bersuara ketika sesuatu sedang ramai.

Tanpa sadar, kita sering berada di posisi itu. Kita melihat, menilai, lalu ikut berkomentar. Kadang terasa hanya seperti hal kecil, sekadar mengetik beberapa kata atau menekan tombol “bagikan”. Padahal, jika kita melihat bagaimana dampaknya digambarkan dalam film Budi Pekerti dan diperkuat oleh data tentang perilaku digital hal kecil itu bisa berkontribusi pada sesuatu yang jauh lebih besar.

Lama-kelamaan, kebiasaan ini membentuk cara kita memandang orang lain. Kita menjadi terbiasa melihat sesuatu secara potongan, bukan sebagai cerita yang utuh. Kita cepat menyimpulkan, tetapi jarang berhenti untuk memahami. Dan di tengah semua itu, empati perlahan tertinggal.

Film Budi Pekerti seperti mengingatkan hal tersebut tanpa harus menggurui. Ia menunjukkan satu cerita, lalu membiarkan penonton menghubungkannya dengan realitas yang ada. Ketika data tentang penggunaan media sosial dan penyebaran informasi kita letakkan di samping cerita film ini, gambarnya menjadi semakin jelas sesuatu yang kita anggap sebagai “cerita film” sebenarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mungkin perubahan tidak perlu dimulai dari hal yang besar. Cukup dengan memberi jeda sebelum bereaksi. Tidak langsung percaya pada apa yang belum jelas. Memberi ruang bagi orang lain untuk menjelaskan dirinya. Hal-hal kecil seperti itu sering terasa sepele, tetapi justru di situlah letak perbedaannya.

Pada akhirnya, film ini terasa relevan karena kita hidup dalam situasi yang sama. Hari ini kita mungkin hanya melihat dari layar. Tapi bukan tidak mungkin, suatu saat kita berada di sisi yang dilihat. Dan ketika itu terjadi, yang kita harapkan mungkin bukan penilaian yang cepat, melainkan kesempatan untuk dipahami.

Penulis : Lusiana Citra Agustin, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store