Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Ketiga Capres Tidak Ada yang Serius Ingin Memperbaiki Pendidikan Kita 

Kabarbaru.co
Penulis adalah Bakhru, Ketua Program Studi Kimia Universitas Bojonegoro.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Kita memang berhak kecewa pada kondisi debat ke 5 capres-cawapres yang berjalan adem ayem, seperti pada sesi tanya jawab isu pendidikan minggu lalu.

Jasa Penerbitan Buku

Tidak ada perdebatan berarti, atau opini yang berseberangan, dan malah terlihat ketiganya ada di posisi yang sama dengan bareng-bareng berucap “saya sependapat”.

Seolah bahwa dunia pendidikan sudah baik-baik saja, atau adapun riak-riak masalah solusinya tunggal. Seperti terlihat pada tidak adanya alternatif opini yang muncul, yang dapat membedakan cara pikir dari ketiga calon presiden saat melihat dunia pendidikan, khususon isu beban administrasi.

Seolah jawaban atas problem ini hanyalah dengan mengurangi beban administrasi itu.

Padahal dalam membedah masalah administrasi tenaga pengajar, kita bisa melihat bahwa persoalan dan penyebabnya bisa sangat beragam dan dalam. Tidak hanya sekedar dapat diselesaikan dengan mengurangi beban administrasi nya.

Kenapa Harus Ada Laporan Administrasi?

Pertanyaan ini adalah salah satu pemantik yang dapat kita mulai untuk membedah akan masalah beban administrasi. Apa sebenarnya latar belakang dari adanya beban administrasi. Kenapa tenaga kependidikan harus melaporkan apa yang sudah ia kerjakan.

Saya menduga, salah satu penyebab adanya laporan administrasi dari tenaga pengajar ke negara adalah karena negara perlu laporan. Dan perlunya laporan tentang apa yang sudah dikerjakan adalah tanda bahwa tidak ada kepercayaan yang terbangun antara tenaga pengajar dan negara.

Sama seperti sifat pacar yang posesif. Setiap langkah, setiap gerak, dan setiap singgah harus dilaporkan. Pergi sama siapa, melakukan apa, dan sampai jam berapa harus dilaporkan detail. Lebih baik lagi jika dalam laporan ada lampiran post a pict (pap)/menyertakan bukti gambar.

Kalau apa yang saya pikirkan ini benar, mari kita kembalikan ke jawaban ketiga paslon tentang beban administrasi. Apakah tepat saat masalah utamanya adalah tidak adanya kepercayaan antara tenaga pendidik dan negara, solusinya adalah dengan mengurangi beban administrasi itu?

Saat suatu hubungan pacaran yang terbangun atas rasa curiga dan tidak percaya, apakah dengan mengurangi jumlah laporan adalah solusi?
Bahkan, dalam konsep pendidikan modern Indonesia.

Ada sebuah pekerjaan atau peran yang disebut asesor/auditor yang tugasnya adalah mengoreksi bentuk laporan kita. Sudah sesuaikan atau sudah layakkan laporan untuk dianggap diterima.
Bayangkan, saat kamu punya pacar posesif, kamu berkewajiban laporan untuk setiap aktivitasmu.

Selain laporan, perlu ada auditor, karena laporan saja tidak cukup. Auditor akan menilai dan mengevaluasi laporanmu benar atau tidak. Bukankah ini sudah kepalang berlebihan posesifnya.
Dan sekali lagi, apakah solusinya adalah dengan mengurangi laporan dan beban administrasi?

Itulah kenapa saya sejujurnya kecewa pada debat yang adem ayem itu. Pada sebuah dugaan jawaban saja kita sebenarnya dapat menemukan alternatif opini yang sangat beragam dalam merespon beban administrasi. Eh kok enaknya semua jawab sepakat.

Joki Tugas

Meningkatkan Kepercayaan

Lantas, saat musabab laporan adalah karena kurangnya kepercayaan, kita bisa langsung meningkatkan kepercayaan?
Saya rasa tidak, karena saya juga menyadari, bahwa banyak kolega saya di dunia pendidikan yang memang tidak layak dipercaya.

Entah karena apa alasannya mereka menjadi tidak dapat dipercaya. Tapi pada kenyataannya banyak di antara kolega yang memang menjalankan proses pendidikan dengan banyak sekali kecurangan.

Misal saja, hilangnya etika untuk meletakkan penulis pertama pada sebuah artikel. Masih ada saja kolega yang tega menyerobot posisi penulis pertama pada artikel ilmiah yang bersumber datanya diambil dari karya ilmiah mahasiswa.

Selain itu, ada saja beberapa kolega yang saat mengajar tidak on point. Mereka lebih asyik menceritakan kehidupan pribadi daripada menjelaskan materi. Menggunakan perasaan dan bukan hasil evaluasi dalam menilai. Sampai pengabdian yang masalahnya diada-adakan.

Dari sini, kalau kita mau lanjutkan pertanyaannya, kenapa banyak kolega dari tenaga pendidikan tidak dapat dipercaya?

Satu lagi asumsi opini yang dapat saya munculkan adalah karena kita dibiasakan kerja hanya di permukaan, kita dibiasakan hanya untuk menggarap kewajiban formalistik.

Berapa persen si dosen yang membuat penelitian dan pengabdian yang basis awal pergerakannya adalah untuk merespon situasi nyata yang ada di masyarakat?

Bandingan dengan jumlah dosen yang membuat penelitian dan pengabdian dengan latar belakang masalah asal saja, yang penting setiap semester membuat publikasi tidak bermutu.

Kebiasaan hanya menyelesaikan suatu yang bersifat seremonial ini bisa jadi sumber masalahnya. Karena dibiasakan melakukan pekerjaan yang bersifat seremonial, yang dikejar adalah ketercapaian pelaksanaan.

Sehingga yang dilakukan hanyalah yang penting membuat kegiatan, bukan seberapa penting, dalam, dan berarti pekerjaan dan program yang dikerjakan.
Hal ini mendorong mental yang penting asal laporan, dan ini memicu situasi banyak tenaga pengajar yang tidak layak dipercaya.

Dan sekali lagi, apakah kalau simulasi yang saya buat ini benar adanya, masak solusinya adalah dengan mengurangi beban administrasi? Kan ndak to.

Solusi

Sejujurnya saya ndak tau jawaban atau solusi yang harus dilakukan. Apa yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu. Apakah meningkatkan kepercayaan dulu, atau mengubah mental model lama dengan mental model baru, atau yang seperti apa?

Tapi, mungkin, lebih baik mengubah mental dulu. Sementara perkara mengubah mental itu sulit dan membutuhkan waktu yang lama.

Karena tanpa ada mental model baru, berapapun jumlah laporan beban administrasi, kalau mentalnya adalah “ah yang penting asal lolos laporan”, atau “ah yang penting ada yang dapat dilaporan” ya akan sama saja.

Implikasinya tidak akan signifikan, bahkan mungkin tidak akan berarti apa-apa. Kalau kata Coach Justin selesai itu barang.

Penulis adalah Bakhru, Ketua Program Studi Kimia Universitas Bojonegoro.

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store