Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Harga Batu Bara Melandai Usai Pesta Pora Tiga Hari, Perang Selat Hormuz Makan Korban

Desain tanpa judul - 2026-04-01T102922.309
Ilustrasi Batu Bara saat dipindah ke kapal dan siap diekspor ke luar negeri (Dok: Istimewa).

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Tren penguatan tajam harga batu bara dunia akhirnya terhenti pada penutupan perdagangan.

Setelah mencatatkan reli kenaikan hingga 8% dalam tiga hari terakhir, harga si emas hitam kini mulai melandai seiring dengan munculnya optimisme perdamaian di Timur Tengah.

Mengutip data Refinitiv, harga batu bara jatuh 2,02% ke level US$ 146,5 per ton.

Meski terkoreksi, performa batu bara sepanjang Maret 2026 tetap mengagumkan dengan lonjakan mencapai 24,55%.

Angka ini menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Mei 2022, saat pecahnya perang Rusia-Ukraina mengguncang pasar energi global.

Efek Domino Perang Iran dan Selat Hormuz

Lonjakan harga sepanjang Maret 2026 terjadi akibat imbas perang Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz.

Kondisi ini menyebabkan harga minyak mentah dunia melesat di atas US$ 100 per barel dan memaksa banyak negara kembali beralih ke batu bara sebagai alternatif energi murah.

Negara-negara besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan kini mengandalkan cadangan batu bara mereka untuk menjaga ketahanan energi.

Bahkan, Amerika Serikat memilih menunda pensiun sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Di Eropa, parlemen Italia juga menyetujui penundaan penutupan pembangkit batu bara hingga 2038 demi menghindari lonjakan biaya listrik yang drastis akibat kelangkaan gas.

Sinyal Penurunan Harga dari China

Meskipun sempat terbang tinggi, pasar batu bara kemungkinan akan menghadapi tekanan turun dalam pekan ini. Kabar dari China menunjukkan bahwa aktivitas pembelian spot mulai jenuh.

Pembangkit listrik di Negeri Tirai Bambu tersebut cenderung menjauh dari pasar karena cadangan stok mereka masih mencukupi untuk kebutuhan 22,5 hari operasional.

Data Mysteel mencatat tingkat produksi tambang di wilayah utama China tetap tinggi dengan utilisasi kapasitas mencapai 92,9%.

Kondisi pasokan yang longgar ini memaksa puluhan perusahaan tambang memangkas harga jual mereka untuk menjaga stabilitas penjualan.

Di sisi lain, meredanya ketegangan konflik global turut membawa harga minyak dan gas alam turun secara kompak, yang secara otomatis menyeret harga batu bara ke zona merah.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store