Fakultas Syariah UIN Madura Sukses Gelar International Visiting Lecturer

Jurnalis: Hanum Aprilia
Kabar Baru, Madura – Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Madura sukses menggelar kegiatan Studium General sekaligus International Visiting Lecturer.
Acara bergengsi ini mengangkat tema strategis mengenai Fikih Nusantara dan integrasi ilmu dalam manuskrip ulama Madura yang dikenal sebagai kitab Tarjuman.
Pihak fakultas menghadirkan pakar internasional dari Universiti Malaya, Imamuddin, Lc., M.Sh., Ph.D., sebagai pemateri utama.
Kehadiran akademisi asal Malaysia ini bertujuan untuk memperkuat kajian keilmuan berbasis khazanah lokal pesantren Madura agar lebih dikenal di kancah dunia.
Dekan Fakultas Syariah UIN Madura, Muhammad Taufiq, Ph.D., menegaskan bahwa kolaborasi riset mengenai manuskrip karya KH. Abdul Hamid Itsbat ini merupakan langkah taktis menuju visi kompetitif di Asia Tenggara pada 2026.
Fakultas Pertama Gelar Dosen Tamu
Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. Maimun, M.H.I., memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif akademik tersebut.
Ia mencatat bahwa Fakultas Syariah menjadi fakultas pertama di lingkungan UIN Madura yang menyelenggarakan program International Visiting Lecturer tahun ini.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar ruang transfer ilmu, melainkan momentum penting untuk mengintegrasikan tradisi lokal pesantren dengan perkembangan akademik global.
“Studium General ini sejalan dengan visi UIN Madura sebagai pusat kajian Islam Madura yang unggul dan berdaya saing internasional,” ujar Prof. Maimun.
Ia juga mendorong para mahasiswa untuk aktif mendalami manuskrip ulama Nusantara sebagai bagian dari identitas intelektual bangsa yang harus terjaga.
Manuskrip Madura Sebagai Solusi
Dalam pemaparannya, Dr. Imamuddin menekankan bahwa Fikih Nusantara merupakan bentuk ijtihad kontekstual yang lahir dari interaksi teks keagamaan dengan realitas sosial budaya Indonesia.
Ia menyoroti kitab Tarjuman sebagai warisan intelektual ulama Madura yang mencerminkan integrasi ilmu keislaman dengan kearifan lokal yang sangat kuat.
“Manuskrip ulama Madura bukan hanya warisan masa lalu, tetapi representasi integrasi ilmu yang relevan untuk menjawab tantangan zaman saat ini,” ungkap Imamuddin di hadapan ratusan mahasiswa.
Diskusi berlangsung interaktif saat para peserta melontarkan pertanyaan kritis mengenai relevansi Fikih Nusantara di era globalisasi.
Melalui kegiatan ini, UIN Madura kembali mempertegas posisinya sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan Islam yang moderat, kontekstual, dan berbasis riset lokal yang mengglobal.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

