Pemberdayaan Perempuan Hindu Berbasis Kesetaraan Gender Melalui Pendidikan dan Pelatihan
- 12/02/2026 - 13:20
- |
- Subscribe


Jurnalis: Pengki Djoha
Ditulis Oleh: Paramita Sarasvati
Anggota: Niluh Eka Astuti, Ni Luh Diah Marniati, Ni Kadek Lia Sanjiwani
Kabar Baru,Gorontalo — Upaya mendorong kesetaraan gender dan penguatan kapasitas perempuan Hindu di era modern kembali mendapat perhatian akademik. Tim mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggagas strategi pemberdayaan perempuan Hindu berbasis kesetaraan gender melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan sebagai pilar utama pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Karya tulis ilmiah berjudul “Strategi Pemberdayaan Perempuan Hindu Berbasis Kesetaraan Gender Melalui Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan” ini disusun oleh Paramita Sarasvati bersama tim yang diketuai Ni Nyoman Sekaryanti, dengan anggota Niluh Eka Astuti, Ni Luh Diah Marniati, dan Ni Kadek Lia Sanjiwani.
Tantangan Ketimpangan Gender
Dalam kajiannya, tim peneliti menyoroti bahwa meskipun ajaran Hindu secara teologis memuliakan perempuan sebagai perwujudan Shakti dan simbol kebijaksanaan melalui Dewi Saraswati, praktik sosial di lapangan masih menunjukkan adanya ketimpangan.
Data Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia tahun 2024 menunjukkan angka 0,421, yang meskipun mengalami perbaikan, masih mencerminkan adanya kesenjangan akses dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan. Dalam konteks perempuan Hindu, ketimpangan tersebut terlihat pada tiga aspek utama: keterbatasan akses pendidikan tinggi, minimnya pelatihan keterampilan yang terstruktur, serta rendahnya partisipasi dalam pengambilan keputusan di ranah keluarga dan sosial.
“Secara filosofis perempuan dimuliakan, tetapi dalam praktik sosial masih terdapat bias budaya dan struktur patriarki yang membatasi ruang gerak perempuan,” ujar Ni Nyoman Sekaryanti selaku ketua tim.
Pendidikan dan Pelatihan sebagai Pilar Utama
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis situasi sosial. Sumber data diperoleh dari literatur keagamaan Hindu, jurnal ilmiah, dokumen kebijakan, serta laporan organisasi sosial keagamaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan formal berperan penting dalam meningkatkan kesadaran kritis, kepercayaan diri (self-efficacy), dan literasi digital perempuan Hindu. Sementara itu, pelatihan keterampilan—khususnya di bidang kewirausahaan, manajemen usaha, dan digital marketing—terbukti mampu meningkatkan kemandirian ekonomi.
Tim peneliti menekankan bahwa program pemberdayaan harus dirancang dengan prinsip kesetaraan gender, mulai dari akses yang inklusif hingga integrasi perspektif gender dalam materi pembelajaran. Pendekatan partisipatif juga dinilai penting agar perempuan terlibat langsung dalam perencanaan dan evaluasi program.
Penguatan Ekonomi Melalui Koperasi dan Digitalisasi
Dalam konteks Gorontalo, sebagai wilayah dengan populasi umat Hindu yang tergolong minoritas, perempuan Hindu menghadapi tantangan tambahan berupa keterbatasan akses modal dan jaringan usaha. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pembentukan koperasi perempuan Hindu atau kelompok usaha bersama sebagai strategi kolektif.
Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai wadah ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial untuk berbagi pengetahuan, memperkuat solidaritas, dan membangun keterampilan kewirausahaan berbasis nilai Dharma.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dan e-commerce dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas pasar. Digitalisasi memungkinkan perempuan menjalankan usaha secara fleksibel tanpa meninggalkan tanggung jawab domestik. Namun demikian, peningkatan literasi digital menjadi prasyarat utama agar perempuan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pelaku ekonomi digital yang kompeten.
Solusi Kultural dan Struktural
Penelitian ini juga mengusulkan solusi terhadap hambatan kultural dan struktural yang masih mengakar. Beberapa strategi yang direkomendasikan antara lain:
-
Mendorong pembagian tanggung jawab domestik yang adil dalam keluarga.
-
Melibatkan tokoh agama dalam menyebarkan pemahaman kesetaraan gender berbasis ajaran Hindu.
-
Memperkuat peran organisasi perempuan seperti Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) dalam pendidikan, pelatihan, dan advokasi kebijakan.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena memadukan transformasi sosial dengan penguatan nilai spiritual dan budaya yang telah hidup di masyarakat.
Transformasi Sosial Berkelanjutan
Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan Hindu bukan sekadar peningkatan kapasitas individu, melainkan bagian dari transformasi sosial menuju relasi gender yang lebih setara dan inklusif.
Sinkronisasi antara nilai-nilai Hindu dan prinsip kesetaraan gender menjadi kunci agar proses pemberdayaan berjalan kontekstual dan berkelanjutan. Pendidikan dan pelatihan keterampilan diposisikan bukan hanya sebagai sarana peningkatan kompetensi, tetapi juga sebagai jalan untuk memperkuat identitas perempuan Hindu sebagai agen perubahan di era modern.
Melalui gagasan ini, tim mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sumber daya manusia Hindu yang unggul, mandiri, dan tetap berlandaskan nilai Dharma di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink
