Dandim 0619/Purwakarta Letkol Arh Fredy Jaguar Bangun Harapan di Balik Dinding Panti Asuhan

Jurnalis: Deni Aping
Kabar Baru, Purwakarta – Sebuah bangunan mungkin hanya terlihat sebagai dinding, kamar dan atap yang menaungi penghuninya. Namun bagi puluhan anak yang tinggal di Yayasan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Insan Cita Al-Firdaus, Kampung Jati RT 012/RW 006, Desa Cihuni, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, tempat itu memiliki arti yang jauh lebih besar.
Di sanalah mereka menemukan tempat untuk tinggal, belajar, tumbuh dan menata kembali harapan tentang masa depan.
Harapan untuk menghadirkan tempat tinggal yang lebih layak itulah yang kini terus dibangun melalui program Bakti TNI Kodim 0619/Purwakarta. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kepedulian TNI dalam menyambut HUT ke-81 TNI.
Dandim 0619/Purwakarta Letkol Arh Fredy Jaguar mengatakan, pemilihan LKSA Insan Cita Al-Firdaus sebagai lokasi kegiatan bukan sekadar karena kebutuhan pembangunan fisik. Di baliknya terdapat kepedulian terhadap keberadaan anak-anak yang selama ini mendapatkan pengasuhan di yayasan tersebut.
“Kita melihat di sini ada anak-anak yang memang membutuhkan perhatian. Mereka membutuhkan tempat tinggal yang layak, nyaman dan aman untuk tumbuh serta mendapatkan pendidikan. Karena itu, melalui kegiatan Bakti TNI ini kita ingin memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan oleh mereka,” ujar Fredy. Minggu (4/10/2026).
Menurut dia, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas di yayasan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus semangat gotong royong antara TNI dan masyarakat.
“Yang kita bangun bukan hanya fisiknya, tetapi juga semangat dan harapan anak-anak di sini. Mudah-mudahan dengan lingkungan yang lebih layak, mereka semakin nyaman untuk belajar dan mengejar cita-cita,” katanya.
Di balik berdirinya LKSA Insan Cita Al-Firdaus, terdapat kisah kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan sebagian anak yang kini diasuh di tempat tersebut.
Ketua Yayasan LKSA Insan Cita Al-Firdaus, Iqbal Firdaus, pernah merasakan kehilangan orang tua ketika masih berada pada usia yang membutuhkan kasih sayang dan perlindungan keluarga.
Iqbal ditinggal sang ayah. Beberapa bulan kemudian, ibunya juga meninggal dunia. Kehidupan kemudian membawanya ke sebuah panti asuhan.
Pengalaman tersebut membekas dalam perjalanan hidupnya. Setelah dewasa, pengalaman masa kecil itu justru tumbuh menjadi dorongan untuk membantu anak-anak lain yang mengalami keadaan serupa.
Iqbal kemudian bertekad mendirikan sebuah yayasan yang dapat menjadi tempat bagi anak-anak yatim, piatu, terlantar maupun anak-anak yang memiliki keterbatasan untuk memperoleh pendidikan dan pengasuhan.
Keinginan itu mulai diwujudkan pada 2019.
Di tengah perkembangan teknologi dan peralihan penggunaan telepon seluler dari BlackBerry menuju perangkat berbasis Android, Iqbal memanfaatkan media daring untuk memperkenalkan keberadaan yayasan. Informasi mengenai tempat penampungan anak-anak yang membutuhkan pengasuhan disebarluaskan melalui media sosial dan jaringan masyarakat.
Langkah tersebut perlahan membuat keberadaan yayasan semakin dikenal.
Latar belakang Iqbal yang pernah bekerja di lingkungan Dinas Sosial Kabupaten Purwakarta juga menjadi bagian dari perjalanan LKSA Insan Cita Al-Firdaus. Hubungan dan pengalaman tersebut membuat yayasan kerap menjadi salah satu tempat yang membantu menangani anak-anak yang membutuhkan perlindungan sosial.
Anak-anak terlantar, yatim piatu maupun mereka yang membutuhkan tempat untuk melanjutkan pendidikan kemudian mendapatkan ruang untuk tinggal dan dibina di yayasan tersebut.
Seiring waktu, jumlah anak yang berada dalam naungan LKSA Insan Cita Al-Firdaus terus bertambah.
Saat ini, yayasan menaungi sekitar 100 anak. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 anak tinggal langsung di lingkungan yayasan, mulai dari usia sekolah dasar hingga sekitar 18 tahun.
Mereka datang dengan cerita kehidupan yang berbeda-beda.
Ada yang kehilangan orang tua, ada yang membutuhkan perlindungan, dan ada pula yang membutuhkan kesempatan untuk tetap bersekolah serta mendapatkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Bagi anak-anak tersebut, LKSA Insan Cita Al-Firdaus bukan sekadar tempat singgah. Tempat itu telah menjadi rumah kedua.
Karena itu, kondisi bangunan dan fasilitas menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Kehadiran Kodim 0619/Purwakarta melalui program Bakti TNI memberikan angin segar bagi yayasan. Pembangunan dan rehabilitasi dilakukan untuk memperbaiki kondisi fasilitas sehingga anak-anak dapat menempati lingkungan yang lebih layak.
Fredy menuturkan, kepedulian terhadap yayasan tersebut juga sejalan dengan semangat TNI untuk hadir di tengah masyarakat.
“Kita ingin TNI tidak hanya hadir ketika ada persoalan, tetapi juga hadir untuk membantu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak ini adalah bagian dari masyarakat yang harus kita perhatikan bersama,” ucapnya.
Menurut Fredy, pembangunan tersebut tidak akan memiliki arti apabila hanya dikerjakan oleh satu pihak. Karena itu, semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
“Semoga apa yang kita kerjakan bersama ini bisa memberikan manfaat jangka panjang. Harapannya, anak-anak di sini bisa merasa lebih nyaman, lebih semangat belajar dan memiliki keyakinan bahwa masa depan mereka masih panjang dan penuh kesempatan,” katanya.
Bagi Iqbal Firdaus, perhatian yang diberikan kepada yayasan menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Sebab, ia memahami betul bagaimana rasanya tumbuh tanpa orang tua dan membutuhkan tempat untuk berlindung.
Kini, pengalaman masa lalu tersebut justru menjadi alasan dirinya terus berusaha memberikan tempat yang lebih baik bagi anak-anak yang memiliki nasib serupa.
Di LKSA Insan Cita Al-Firdaus, sebuah bangunan sedang diperbaiki. Tetapi sesungguhnya, yang sedang dibangun jauh lebih besar daripada sekadar dinding dan ruang tempat tinggal.
Ada rasa aman yang ingin dihadirkan. Ada pendidikan yang ingin terus dijaga. Dan ada masa depan anak-anak yang ingin dipelihara.
Melalui Bakti TNI dalam menyambut HUT ke-81 TNI, Kodim 0619/Purwakarta berupaya mengambil bagian dalam perjalanan tersebut.
Sebab, bagi anak-anak yang pernah kehilangan tempat bergantung, perhatian kecil dari orang-orang di sekelilingnya dapat menjadi alasan untuk kembali percaya bahwa mereka masih memiliki tempat untuk berharap.
Dan di tempat sederhana di Kampung Jati itu, harapan tersebut terus dibangun satu demi satu. ***
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
