Dari Limbah Interior ke Fashion, Ketika Material Sisa Diuji Menjadi Karya Baru

Jurnalis: Wafil M
Kabar Baru, Surabaya – Ketika sebuah kain korden tidak lagi digunakan, pilihannya biasanya sederhana: disimpan, dibuang, atau berakhir sebagai limbah. Namun, mahasiswa Universitas Ciputra mencoba menawarkan kemungkinan lain: menjadikan material sisa dari industri interior sebagai bagian dari karya fashion.
Eksperimen tersebut dilakukan Jovita Vimala Hermawan dan Jerrica Idelia melalui pemanfaatan kain korden bekas dari Saffier Decor. Material yang sebelumnya memiliki fungsi sebagai elemen interior kemudian dibongkar, dipotong, disusun kembali, dan diberi teknik tekstil untuk membentuk busana dengan karakter yang berbeda dari fungsi awalnya.
Namun, mengubah limbah menjadi produk baru tidak sesederhana memindahkan material dari satu industri ke industri lain. Tantangannya terletak pada bagaimana material tersebut tetap memiliki nilai, bukan sekadar berganti bentuk.
Jerrica melalui karya “Fractured Elegance” mengeksplorasi kain dengan teknik slashing, patchwork, dan fabric origami. Bentuk bunga digunakan sebagai representasi pertumbuhan, sementara tutup botol bekas turut dimasukkan sebagai elemen yang menegaskan gagasan transformasi.
Sementara itu, Jovita menghadirkan “Palimpsest of Renewal”, sebuah karya yang berbicara tentang jejak masa lalu yang tetap melekat meskipun sebuah material telah mengalami perubahan. Ia menggunakan teknik vertical origami, Sashiko bermotif Kawung, serta sequins yang berasal dari limbah plastik.
“Sesuatu yang lama atau tidak digunakan lagi bukan berarti sudah tidak memiliki nilai,” ujar Jovita.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan persoalan yang lebih luas dalam praktik desain berkelanjutan: apakah sebuah material harus benar-benar dibuang untuk disebut limbah, atau justru persoalannya terletak pada cara industri melihat nilai sebuah material setelah fungsi utamanya berakhir?
Bagi Kurniawan Limanto, owner Saffier Decor, eksperimen tersebut menunjukkan bahwa material dari industri interior masih memiliki kemungkinan untuk dikembangkan di luar fungsi awalnya.
“Menarik sekali melihat bahan kain korden dapat diolah menjadi fashion yang begitu estetik. Apresiasi untuk kreativitas dan sentuhan desainnya, mengubah material biasa menjadi sesuatu yang bernilai,” kata Kurniawan.
Dosen Universitas Ciputra Fabio Ricardo Toreh melihat proses tersebut sebagai bagian dari pembelajaran desain yang tidak berhenti pada penciptaan produk.
“Material tidak harus berhenti pada fungsi awalnya. Justru keterbatasan material dapat menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk bereksperimen dan menghasilkan gagasan desain yang lebih kreatif,” ungkap Fabio.
Eksperimen tersebut memang belum serta-merta menyelesaikan persoalan limbah industri. Namun, ia membuka pertanyaan yang lebih penting: berapa banyak material yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya masih memiliki potensi jika dilihat dari perspektif yang berbeda?
Di titik inilah kolaborasi antara industri dan pendidikan menjadi relevan. Industri menyediakan material dan persoalan nyata, sementara mahasiswa membawa eksperimen, kritik, dan cara pandang baru. Hasil akhirnya bukan sekadar sebuah busana, tetapi proses untuk menguji kembali batas antara limbah, material, dan nilai.
Sebab, keberlanjutan dalam desain bukan hanya tentang membuat sesuatu dari barang bekas. Lebih jauh, ia menuntut perubahan cara berpikir: sebelum membuang sebuah material, apakah kita benar-benar sudah kehabisan cara untuk memberinya kehidupan kedua?
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
