Kelinci Urban Dorong Ekosistem Peternakan Kelinci di Yogyakarta
Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Yogyakarta, 2024 – Potensi peternakan kelinci di Indonesia dinilai masih sangat besar dan belum tergarap secara optimal. Melihat peluang tersebut, Bagas Restu Trisnantoro, CEO Kelinci Urban, menegaskan bahwa ekosistem peternakan kelinci, baik untuk kebutuhan peliharaan maupun konsumsi merupakan niche market yang sekaligus menjadi blue ocean bagi pelaku usaha di sektor peternakan dan pangan alternatif.
“Selama ini kelinci sering dipandang sebelah mata, padahal secara ekonomi, nutrisi, dan keberlanjutan, kelinci memiliki keunggulan yang sangat kompetitif. Permintaan terus tumbuh, sementara pemainnya masih terbatas. Ini adalah peluang besar,” ujar Bagas Restu.
Didirikan pada Agustus 2021, Kelinci Urban berpusat di Kota Yogyakarta dan hadir sebagai penyedia terintegrasi dalam ekosistem kelinci. Perusahaan ini tidak hanya menyediakan kelinci hidup untuk peliharaan dan budidaya, tetapi juga daging kelinci siap konsumsi serta pakan kelinci berkualitas yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas peternak.
Dalam perjalanannya hingga tahun 2025, Kelinci Urban telah membangun kemitraan dengan 7 peternak lokal yang tersebar di wilayah Bantul, Sleman, dan Magelang. Pola kemitraan ini dirancang untuk menciptakan rantai pasok yang berkelanjutan, adil, dan saling menguntungkan, sekaligus mendorong peningkatan kapasitas peternak rakyat. Selain itu Kelinci Urban juga menjalin kerja sama dengan mahasiswa peternakan di Yogyakarta seperti Universitas Gadjah Mada dan Universitas Mercu Buana Yogyakarta sebagai penelitian terkait produktivitas dan efisiensi pengelolaan kandang terpadu.
Menurut Bagas, pengembangan ekosistem menjadi kunci utama. “Kami tidak hanya menjual produk, tetapi membangun sistem. Mulai dari pendampingan peternak, penyediaan pakan, hingga akses pasar. Dengan pendekatan ekosistem, peternakan kelinci bisa naik kelas dan menjadi sumber ekonomi baru,” jelasnya.
Selain sebagai sumber protein hewani alternatif yang rendah lemak dan kolesterol, daging kelinci juga dinilai relevan dengan tren gaya hidup sehat dan keberlanjutan. Hal ini membuka peluang pasar yang luas, baik untuk rumah tangga, UMKM kuliner, hingga sektor horeca (hotel, restoran, dan kafe).
Ke depan, Kelinci Urban berkomitmen untuk terus memperluas jaringan mitra, meningkatkan standar kualitas produk, serta mengedukasi masyarakat bahwa peternakan kelinci bukan sekadar usaha sampingan, melainkan bisnis masa depan yang menjanjikan.
“Indonesia punya semua modalnya seperti iklim, SDM, dan pasar. Tinggal bagaimana kita berani masuk dan menggarapnya secara serius dan berkelanjutan,” tutup Bagas Restu.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

