Dari Akses Terisolir ke Jalan Wisata, Om Zein Ubah Wajah Rancadarah–Gurudug

Jurnalis: Deni Aping
Kabar Baru, Purwakarta – Bagi warga Desa Gurudug, Jalan Rancadarah–Gurudug bukan sekadar bentangan beton. Ia adalah cerita tentang penantian panjang, tentang jarak yang dulu terasa jauh, dan tentang harapan yang kini tumbuh seiring pohon-pohon buah yang mulai ditanam di kiri dan kanan jalan.
Rabu (4/2) pagi itu, suasana berbeda terasa di jalur yang selama bertahun-tahun dikenal sunyi dan sulit dilalui. Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein (Om Zein) turun langsung, berbaur bersama prajurit Kodim 0619/Purwakarta, jajaran OPD, APDESI, para camat, dan warga setempat. Mereka ngosrek jalan, membersihkan lingkungan, lalu menanam 1.000 pohon buah di sepanjang Jalan Rancadarah–Gurudug, Kecamatan Pondoksalam.
Di sepanjang kurang lebih lima kilometer, tujuh jenis pohon buah ditanam rapi. Tak hanya untuk menghijaukan jalan, tetapi juga sebagai penanda perubahan: dari akses terisolir menjadi jalur yang hidup, bernapas, dan memiliki masa depan sebagai kawasan wisata alam.
“Dulu jalan ini pernah dibuka atas inisiasi Kang Dedi Mulyadi, lalu sempat tertunda. Beberapa tahun terakhir kita lanjutkan kembali lewat karya bakti TNI bersama Kodim dan Pemerintah Daerah, dan sekarang sudah selesai,” tutur Om Zein.
Menurutnya, jalan ini memiliki keindahan alami yang jarang dimiliki jalur lain. Di kanan kiri, hamparan kawasan Perhutani membentang. Di kejauhan, Gunung Parang berdiri tegas, terutama memesona di pagi hari.
“Jalannya lebar, pemandangannya indah. Sangat layak dijadikan jalan wisata,” ujarnya.
Atas dasar itulah, Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta menetapkan jalur ini sebagai Jalan Wisata KDM, sebagai penghargaan terhadap inisiator awal sekaligus penguat identitas kawasan.
Namun bagi warga, makna jalan ini lebih dalam. Ia bukan hanya soal nama atau panorama, melainkan tentang perubahan hidup sehari-hari.
“Kita tanam 1.000 pohon supaya jalan ini rindang dan berbuah. Nanti saat musim buah, masyarakat bisa menikmati bersama. Jalur ini juga cocok untuk olahraga, fun run lima kilometer, dari Rancadarah ke Lapang Gurudug,” kata Om Zein.
Ia pun mengingatkan bahwa keindahan jalan ini harus dijaga bersama. Pohon-pohon yang ditanam bukan untuk ditebang, melainkan dirawat. Bahkan, pemerintah desa didorong menyusun peraturan desa agar Gurudug benar-benar tumbuh sebagai desa wisata.
Camat Pondoksalam, Fery Heryana, menyaksikan langsung perubahan yang kini dirasakan warganya. Selama bertahun-tahun, Desa Gurudug seolah berada di balik bukit, jauh dari pusat aktivitas kecamatan.
“Dulu kalau ke pusat Kecamatan Pondoksalam harus memutar lewat Pasawahan, bisa lebih dari 30 menit. Sekarang cukup 5 sampai 7 menit,” ungkapnya.
Bagi warga, waktu tempuh yang lebih singkat berarti akses lebih mudah ke layanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga peluang ekonomi yang mulai terbuka.
Sebagai pelengkap, Pemkab Purwakarta juga merencanakan pemasangan penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya secara bertahap. Lima titik akan dipasang lebih dulu, dengan satu pesan penting dari Bupati: fasilitas publik hanya akan bertahan jika dijaga bersama.
“Kalau aman, tidak hilang, dan dirawat, akan kita tambah. Ini tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Di akhir kegiatan, Om Zein menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna kepada para pengguna jalan.
“Jalannya memang sudah bagus, tapi ini jalan wisata. Jangan kebut-kebutan. Nikmati alamnya, suara burung, angin, dan pemandangan di kanan kiri,” pungkasnya.
Kini, Jalan Rancadarah–Gurudug bukan lagi sekadar penghubung dua wilayah. Ia telah menjadi cerita tentang kebersamaan, tentang alam yang dirawat, dan tentang desa yang perlahan melangkah keluar dari keterisolasian menuju masa depan yang lebih hijau. ***
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

