Mengenal Peretas Handala, Hacker Iran yang Sukses Bobol Email Bos FBI

Jurnalis: Achmad Salim
Kabar Baru, Washington – Kelompok peretas yang terafiliasi dengan Iran, Handala Hack Team, mengklaim telah berhasil membobol akun email pribadi Direktur FBI, Kash Patel.
Dalam aksi peretasan terbaru ini, kelompok tersebut berhasil menggondol sejumlah file pribadi hingga dokumen penting dan langsung mempublikasikannya ke jagat maya.
Handala membagikan berbagai konten pribadi milik Patel, mulai dari foto-foto saat mengisap cerutu, mengendarai mobil antik, hingga foto selfie di depan cermin dengan botol minuman anggur.
Tak hanya foto, para peretas juga menyebarkan sampel dari lebih 300 email yang berisi korespondensi pribadi dan pekerjaan Patel dalam rentang waktu 2010 hingga 2019.
“Kini Patel akan menemukan namanya sendiri di dalam daftar korban peretas yang sukses,” ejek kelompok Handala dalam pernyataannya.
FBI Akui Adanya Serangan Siber
Pihak FBI telah mengonfirmasi bahwa email pimpinan mereka memang menjadi sasaran serangan siber.
Meski begitu, lembaga penegak hukum Amerika Serikat tersebut menyatakan telah mengambil langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi risiko yang muncul.
Juru bicara FBI, Ben Williamson, menegaskan bahwa data yang bocor bersifat historis dan tidak mengandung informasi sensitif milik pemerintah.
“Kami mengambil semua tindakan yang perlu untuk menekan potensi risiko terkait aktivitas ini. Data yang ada merupakan arsip lama dan bukan informasi rahasia negara,” jelas Williamson.
Meskipun Reuters belum bisa memverifikasi keaslian pesan tersebut secara independen, alamat Gmail yang dibobol dilaporkan cocok dengan data Patel yang pernah bocor pada insiden sebelumnya.
Serangan ke Perusahaan Pertahanan
Aksi Handala Hack Team ternyata tidak berhenti pada bos FBI saja. Kelompok ini mengklaim telah meretas beberapa lembaga besar lainnya, termasuk penyedia layanan medis Stryker di Michigan pada 11 Maret lalu.
Mereka sesumbar telah menghapus sebagian besar data perusahaan tersebut dalam aksi peretasan bulan lalu.
Selain itu, Handala juga mengaku telah mengantongi data pribadi puluhan karyawan perusahaan pertahanan raksasa, Lockheed Martin, yang berbasis di Timur Tengah.
Rentetan serangan ini semakin mempertegas ancaman siber yang meningkat di tengah tensi geopolitik global yang memanas antara blok Barat dan Iran pada tahun 2026.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

