Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Bermalas-Malasan di Tempat Kerja Menurut Pandangan Islam

Bermalas-Malasan di Tempat Kerja Menurut Pandangan Islam.

Jurnalis:

Penulis: M. Rafi prasetya S, Romy Solichin, Choirul Aditya R, M. Zakaria, Ridwan H*)

Jasa Penerbitan Buku

Untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, manusia harus berusaha dan bekerja secara baik. Tanpa usaha dan kerja yang sungguh-sungguh, maka pemenuhan kebutuhan hidup, baik berupa kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohaniah sangat sulit tercapai. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit umat manusia, termasuk di dalamnya umat Islam yang malas berusaha dan bekerja. Bahkan cukup banyak yang sudah berstatus Aparat Sipil Negara atau Pegawai Negeri Sipil yang bermalas-malasan dalam bekerja. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka melalui tulisan yang sangat sederhana ini akan dibahas tentang Kerja Dalam Perspektif Islam. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi bahan pemikiran kepada umat Islam, khususnya yang berstatus Aparat Sipil Negara atau Pegawai Negeri Sipil agar dapat memelihara dan meningkatkan kuantitas serta kualitas kinerjanya. Karena Yusuf al-Qardhawi dalam buku berjudul “Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam” ada menjelaskan bahwa “Islam mendorong pemeluknya untuk berproduksi dan menekuni aktivitas ekonomi dalam segala bentuknya; seperti pertanian, peternakan, berburu, industri, perdagangan, dan berbagai bidang keahlian lainnya. Islam mendorong setiap amal perbuatan yang menghasilkan benda atau pelayanan yang bermanfaat bagi manusia dan menjadikannya lebih makmur dan sejahtera. Bahkan Islam memberkati perbuatan duniawi ini dan memberi nilai tambah sebagai ibadah kepada Allah dan jihad di jalan-Nya.[1].

Manusia adalah mahluk yang dikendalikan oleh sesuatu yang bersifat batin dan psikologis, bukan oleh fisik yang nampak. Jadi seorang muslim tidak dibenarkan bermalas-malasan dalam bekerja sebagaimana anjuran hadist nabi ‘bekerjalah untuk duniamu seakanakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan besok kau akan mati’. (al-hadist).

Pada konteks ajaran Islam tentang perekonomian (iqtishadiyah), bekerja adalah modal dasar ajaran islam itu sendiri. Sehingga disebutkan seorang muslim yang bekerja adalah orang mulia, sebab bekerja adalah bentuk ibadah yang merupakan kewajiban setiap orang yang mengaku mukmin. Namun, dalam bekerja juga harus disertai niat yang benar tanpa ada paksaan sehingga bekerja bisa maksimal dan terhindar dari yang tidak halal . Sebab motivasi kerja sangat penting untuk menunjang diri semangat dalam bekerja sehingga menghasilkan sesuatu kepuasan tersendiri dan motivasi kerja merupakan dasar bagi manusia untuk memperoleh ibadah dari Allah SWT. Karena segala sesuatu tergantung dari niatnya. Sehingga apabila niat kita salah dalam bekerja, maka tidak akan dapat pahala dari Allah SWT, dan amalan kita menjadi sia-sia di akhirat.[2]

Kerja Menurut Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam, kerja dapat dibagi dua macam, yaitu kerja lahir dan kerja batin. Kerja lahir merupakan aktivitas fisik, anggota badan, termasuk panca indera seperti melayani pembeli di toko, mencangkul di kebun, mengajar di sekolah, mengawasi anak buah bekerja, dan lain-lain. Kerja batin adalah bekerja dengan menggunakan daya batin. Hal ini terbagi kepada dua macam, yakni: 1. kerja otak, seperti belajar, berfikir kreatif, memecahkan masalah, menganalisis dan mengambil kesimpulan. 2. Kerja qalb, seperti berusaha menguatkan kehendak mencapai cita-cita, berusaha mencintai pekerjaan dan ilmu pengetahuan, sabar dan tawakkal dalam rangka menghasilkan sesuatu.

Dalam buku “Islam Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Umat”, Musa Asy’arie menuliskan bahwa manusia adalah homo faber (makhluk bekerja). Dengan bekerja manusia menyatakan keberadaannya dalam kehidupan masyarakat. Dengan landasan pernyataan ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa orang-orang yang tidak melakukan aktivitas kerja dan atau orang yang memiliki pekerjaan tetapi malas bekerja adalah orang- orang yang nilai kemanusiaannya kurang baik. Dengan hal itu juga, keberadaannya dalam kehidupan masyarakat tergolong lemah.

Selanjutnya Hamzah Ya’qub menegaskan bahwa bekerja menurut Islam adalah sesuatu yang sudah ditakdirkan pada diri umat manusia. Bekerja adalah sesuai dengan kodratnya sekaligus menjadi cara untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, lahir dan batin. Ajaran Islam mendorong semua orang supaya berusaha secara sungguh-sungguh dan tekun dalam untuk menguasai pekerjaannya. Setiap individu muslim tidak dapat dipisahkan dengan kerja. Bekerja mengandung makna menjunjung martabat kemanusiaannya. Setiap muslim akan kehilangan martabat kemanusiaannya bila tidak mau dan atau malas bekerja.

Dari penjelasan tersebut, berati orang-orang yang tidak mau dan atau malas berkerja adalah orang yang mengabaikan kodrat atau fitrahnya. Mereka itu adalah orang-orang yang hanya lahirnya saja menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, tetapi secara hakikinya ia tidak sungguh-sungguh ingin mendapatkan kebahagiaan tersebut. Dengan itu pula martabat kemanusiaannya menjadi kurang baik atau lemah.

Seiring dengan penjelasan di atas, Musa Asy’arie menegaskan bahwa sesungguhnya dalam perspektif Islam, bekerja itu dapat mengandung nilai ibadah atau merupakan bahagian dari amal shaleh. Selayaknya seseorang muslim itu bekerja bukan karena ketakutan atas kemiskinan. Demikian pula bekerja dengan sungguh-sungguh dan tekun bukan semata-mata untuk mendapatkan harta kekaayaan, tetapi bekerja sebagai tuntutan kualitas manusia untuk beribadah yang sesungguhnya berkaitan dengan kualitas spiritual manusia.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat diambil suatu pemahaman, bahwa tinggi atau rendahnya martabat dan kualitas hidup seorang muslim sangat dipengaruhi oleh amal atau kerjanya. Hal ini sejalan dengan yang ditegaskan Allah Swt dalam al-Quran Surah Al Aḥqāf ayat 19 (yang artinya).

Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan”. Sejalan dengan itu, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kamu berusaha, maka oleh karena itu hendaklah kamu rajin berusaha.” Ayat dan hadis ini mengandung suatu penegasan bahwa amal atau kerja mempunyai makna eksistensial dalam hidup dan kehidupan seorang muslim. Tidak diragukan lagi, ajaran Islam benar-benar mendorong dan mewajibkan umat Islam untuk rajin bekerja.

Istilah kerja dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara. Dengan kata lain, orang yang berkerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain.

Oleh karena itu, kategori “ahli surga” seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang mempunyai pekerjaan/jabatan yang tinggi dalam suatu perusahaan/instansi sebagai manajer, direktur, teknisi dalam suatu bengkel dan sebagainya. Tetapi sebaliknya Al- Qur’an menggariskan golongan yang baik lagi beruntung (al-falah) itu adalah orang yang banyak taqwa kepada Allah, khusyu sholatnya, baik tutur katanya, memelihara pandangan dan kemaluannya serta menunaikan tanggung jawab sosialnya seperti mengeluarkan zakat dan lainnya. Golongan ini mungkin terdiri dari pegawai, supir, tukang sapu ataupun seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Sifat-sifat di ataslah sebenarnya yang menjamin kebaikan dan kedudukan seseorang di dunia dan di akhirat kelak. Jika membaca hadits-hadits Rasulullah SAW tentang ciri-ciri manusia yang baik di sisi Allah, maka tidak heran bahwa di antara mereka itu ada golongan yang memberi minum anjing kelaparan, mereka yang memelihara mata, telinga dan lidah dari perkara yang tidak berguna, tanpa melakukan amalan sunnah yang banyak dan seumpamanya.

Joki Tugas

Banyak hadits yang menjelaskan tentang pentingnya bekerja didalam Islam, seperti:“Dari Miqdan r.a. dari Nabi Muhammad Saw, bersabda: ”Tidaklah makan seseorang lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud a.s., makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari). Dalam sebuah hadits Rasul saw bersabda: “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah.” (HR. Ahmad & Ibnu Asakir). Rasulullah saw pernah ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjawab, Pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perjualbelian yang dianggap baik.” (HR. Ahmad dan Baihaqi). Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Umar r.a., berbunyi : “Bahwa setiap amal itu bergantung pada niat, dan setiap individu itu dihitung berdasarkan apa yang diniatkannya …”. Pada hadits-hadits yang disebutkan di atas, menunjukkan bahwa bekerja merupakan perbuatan yang sangat mulia dalam ajaran Islam.

Sesuai dengan keberadaan bekerja yang merupakan suatu kewajiban menurut ajaran Islam, maka Yusuf al- Qardhawi mengungkapkan bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Sejalan dengan itu Toto Tasmara, menyatakan seorang muslim dalam bekerja harus dengan mengerahkan semua aset, pikir dan zikir. Namun demikian, menurut Muhammad Quraish Shihab menambahkan, supaya kerja yang dilakukan seseorang muslim memiliki nilai ibadah maka dalam melaksanakan suatu pekerjaan tersebut haruslah disertai dengan keikhlasan.

Dalam kajian Fiqh, sesuatu yang diwajibkan bila dikerjakan secara benar dan baik akan menghasilkan kebaikan atau pahala dari Allah Swt; sebaliknya bila ia ditinggalkan atau diabaikan, maka akan menghasilkan keburukan atau dosa. Dengan kerangka berpikir tersebut, malas bekerja atau melalaikan pekerjaan adalah suatu perbuatan dosa. Berarti orang-orang yang malas atau tidak mau bekerja secara sungguh-sungguh adalah orang-orang yang berdosa dan tidak membutuhkan pahala dari Allah Swt. [3].

Ibnu Abbas RA berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut.” (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu’jam Al- Ausath VII/ 289).

Setiap melakukan pekerjaan, aspek etika merupakan hal mendasar yang harus selalu diperhatikan. Seperti bekerja dengan baik, didasari iman dan taqwa, sikap baik budi, jujur dan amanah, kuat, kesesuaian upah, tidak menipu, tidak merampas, tidak mengabaikan sesuatu, tidak semena-mena (proporsional), ahli dan professional, serta tidak melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan hukum Allah atau syariat Islam (Al-Qur’an dan Hadits) . Melakukan pekerjaan dengan baik, Allah memerintahkan umatnya agar melakukan suatu pekerjaan dengan baik dan sungguh-sungguh. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 51). Selain itu, dalam memilih seseorang untuk diserahi suatu tugas, Rasulullah saw melakukannya secara selektif, di antaranya dilihat dari segi keahlian, keutamaan, dan kedalaman ilmunya. Beliau juga selalu mengajak mereka agar tekun dalam menunaikan pekerjaan, dan tidak bermalas- malasan.

Setiap muslim yang sehat akal pikiran dan hati nuraninya pasti menginginkan suatu kebahagiaan di dunia dan akhirat. Untuk mendapatkan itu harus menjalankan dan mematuhi ketentuan-ketentuan yang ada di dalam ajaran Islam, termasuk ketentuan yang berkaitan dengan kerja. Karena bekerja itu termasuk sesuatu yang diwajibkan, maka seseorang muslim itu haruslah melaksanakan pekerjaan yang telah dimilikinya secara sungguh- sungguh dan tekun. Adapun seseorang muslim yang belum mendapatkan pekerjaan, mereka harus tekun dan bersungguh-sungguh berupaya mendapatkan pekerjaan dengan dibarengi doa yang sungguh-sungguh kepada Allah Swt. Amalan atau pekerjaan yang demikian selain memperoleh keberkahan serta kesenangan dunia, juga ada yang lebih penting yaitu merupakan jalan atau tiket dalam menentukan tahap kehidupan seseorang di akhirat kelak, apakah masuk golongan ahli surga atau sebaliknya.

Dengan motivasi dapat mendorong seseorang menjadi lebih giat dan bersemangat dalam bekerja semua pekerjaan yang dianggap berat bahkan susah untuk dilakukan akan terasa ringan dengan adanya motivasi dorongan bekerja dari dalam individu seseorang sehingga menghasilkan sesuatu hal pekerjaan yang terbaik dan seseorang individu tersebut akan puas dengan hasil pekerjaannya sendiri yang dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh suatu perusahaan. Serta aktivitas yang dikerjakan untuk mencari nafkah jangan hanya niatkan untuk kehidupan dunia semata, melainkan kita niatkan juga dengan ibadah kepada Allah SWT supaya amalan tidak menajdi amalan yang rugi ketika di akhirat kelak. Karena pada hakekatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT hanyalah untuk beribadah kepadanya.

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Pelita Bangsa.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kabarbaru.co

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store