Banjir Terparah Sejak Dibangun, Trusmiland Cirebon Kembali Terendam hingga Hampir 1 Meter, Ratusan Warga Mengungsi

Jurnalis: Nurhidayat
Kabar Baru, Cirebon – Perumahan Trusmiland Klayan 5, Desa Batembat, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, kembali dilanda banjir. Peristiwa ini memaksa ratusan warga mengungsi setelah rumah mereka terendam air dengan ketinggian hampir satu meter.
Banjir kali ini disebut sebagai yang terparah sejak perumahan tersebut dibangun sekitar tiga tahun lalu. Genangan air mulai memasuki permukiman warga sejak Jumat dini hari (6/2/2022) dan terus meningkat hingga hari kedua.

Salah seorang warga, Arif Thasdiq, mengungkapkan bahwa ketinggian air pada hari kedua jauh lebih parah dibanding banjir sebelumnya.
“Ini yang paling parah. Banjir bulan kemarin hanya parah di bagian belakang, belum sampai ke blok sini,” ujar Arif.
Akibat banjir tersebut, ratusan warga terpaksa mengungsi ke masjid, rumah kerabat, hingga menumpang di rumah warga lain yang memiliki permukaan tanah lebih tinggi.
“Tadi malam banyak warga kebingungan mau mengungsi ke mana. Air mulai naik sekitar jam sembilan malam,” tambahnya.

Warga lain, Dedi Slamet, mengaku sangat menderita akibat banjir yang terus berulang. Ia menyebut banjir kali ini merupakan kejadian keempat dalam dua bulan terakhir dan menuntut tanggung jawab pengembang perumahan untuk memberikan solusi permanen.
“Sebelumnya warga sudah meminta pengembang Trusmiland untuk meningkatkan kualitas tanggul pembatas, tapi yang dibuat justru sumur resapan. Sekarang terbukti sumur resapan tidak efektif,” kata Dedi.
Menurutnya, warga sudah sejak awal mengingatkan potensi banjir yang bisa semakin parah. Ia menilai solusi utama yang dibutuhkan adalah peninggian dan penguatan turap atau tembok pembatas agar air dari area persawahan tidak masuk ke permukiman.
“Karena posisi air sawah lebih tinggi dari tanah perumahan, maka harus dibendung,” ujarnya.
Selain itu, warga juga meminta agar permukaan tanah perumahan ditinggikan serta sistem drainase dimaksimalkan sesuai site plan.
“Saluran air seharusnya diarahkan ke gorong-gorong besar, tapi sekarang tidak berfungsi,” pungkas Dedi. (*)
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

