Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Budiman sudjatmiko Sebut Alat Politik Praktis Warga NU Hanya PKB

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Pengurus Besar PMII melakukan diskusi Aktivis dalam Lingkaran Kekuasaan: Idealisme yang tertanam atau memudar berlangsung di sekretariat PB. PMII. Diskusi tersebut dihadiri oleh organisasi cipayung dan warga salemba raya.

Terdapat empat pembicara kunci yaitu: H.Arif Rahman (Staff ahli wakil presiden), Syamsul widodo (Staff Ahli kementerian desa PDTT), Budiman Sudjatmiko (aktivis ’98), dan dan Oky Tirto (sekertaris nasional FK-GMNU).

Diskusi di buka oleh ketua bidang ketenagakerjaan mewakili ketua umum PB PMII bahwasannya agenda ini ingin memberikan pandangan pada aktivis hari ini bahwasannya idealisme aktivis dalam lingkaran kekuasaan apakah masih tertanam atau memudar?.

Atau ada pergerakan aktivis pada tiap zaman mempunyai ciri khas yang ketika diberikan kekuasaan atau masuk dalam sistem kekuasaan masih teguh pada barisan rakyat dan masyarakat tertindas. Serta berterimakasih pada peserta dari cipayung plus, BEM Nasional dan warga salemba raya.

Baca Juga  Datang ke Pacitan, Prabowo Ucapkan Terima Kasih ke SBY dan Demokrat

Semoga acara ini bisa bermanfaat dan mempunyai output yang progresif.
Diskusi tersebut diawali oleh Budiman Sudjatmiko sebagai pembicara pertama dengan beberapa penyampaian terutama posisi aktivis di dalam melihat persoalan yang terjadi hari ini.

Selain itu, dirinya juga mengurai bagaimana peran aktivis di dalam parlemen.

“Cara melihat persoalan yang usang. Jika orang baik masuk pada sistem yang buruk, pun bisa tenggelam. Bukan karena dia jahat tapi dia tidak bisa menawarkan sesuatu terhadap kekuasaan. Tidak menjadi faktor diterminan. Orang baik yang masuk kekuasaan akan menjadi lipsting jika tidak hanya menghasilkan terobosan. Maka akan tertinggal,” ujarnya.

“Aktivis di dalam siystem Maka harus menjadi episentrumnya sistem. Anda harus menjadi no.1 di level apapun. Jika tidak menjadi di episentrum, maka anda tidak akan menjadi pendorong. Bagaimana untuk menjadi core inti? Harus menawarkan cara pandang yang relevan. Bawalah ide yang relevan dan ekosistemnya–tidak hanya sistem–harus berubah” urai aktivis ’98 tersebut.

Baca Juga  Luruskan Informasi: Surya Paloh ke Istana Karena Diundang Jokowi 

Menanggapi persoalan pradoksal apakah Idealisme tetap tertanam atau memudar ketika di parlemen. dirinya menjawab kedua pilihan tersebut ini terlalu ekstream.

Dia menambahi Tugas manusia tidak hanya mempertahankan idealisme tetapi mewujudkan idealisme.

Sementara Syamsul widodo menanggapi “ada beberapa yang harus diubah karena situasi zaman yang berbeda. Aktivis yang kompeten di dalam banyak hal untuk menghadapi banyak tantangan.” Ujarnya.

Seirama dengan hal itu, Arif Rahman menyampaikan pengalamannya sejak aktif di dunia gerakan mahasiswa sampai saat ini.

Aktivis harus memiliki integritas, totalitas dan loyalitas. Membangun komunikasi dengan pelbagai pihak itu penting. Ia juga menegaskan pentingnya “Membangun kemandirian ekonomi kita. Agar mampu menjaga indepedensi serta memperkuat posisi organisasi agar tidak mudah diintervensi,” ujarnya.

Di sisi lain, Okky berpadangan bahwa “dalam menstransmisikan apa yang kita ketahui agak sulit untuk menghasilkan policy. Kecuali kita berpartner dengan sesama aktivisme yang ada di parlemen” pungkasnya.

Baca Juga  Data Bermasalah, KPU RI Diminta Evaluasi Real Count Sirekap di Website

Oky memberikan konsep tentang aktivis. Baginya; Pertama, aktivis adalah pola pikir, aktivis adalah nilai. Aktivis bukan profesi.

Yang kerap disalahpahami adalah aktivis dianggap sebagai profesi. Sehingga ketika mereka berada di dalam lingkar kekuasaan dianggap berbeda. Aktivisme soal rute, soal trajectory” tegasnya.

Diskusi berlanjut dengan tanya Jawab antara peserta dan pembicara. Terjadi dialog terbuka soal bagiamana peran-peran strategis aktivis saat ini dan masa depan.

Di tahun-tahun mendatang saat Indonesia memasuki fase Indonesia emas, tidak menutup kemungkinan yang akan mengisi itu adalah meraka yang tidak berlatar belakang aktivis. Jika saat ini, aktivis masih belum mempersiapkan diri.

Sebagai penutup, Arif Rahman mengaskan “Aktivis hari ini harus mempersiapkan diri untuk berperan di masa mendatang,” Pungkasnya.

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store