Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Forum Intelektual Muda Gelar Diskusi Bertajuk Menguji Netralitas Jokowi

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Bertempat dibilangan Tebet Jakarta Selatan tepatnya di Kopi Titan yang dihadiri oleh para generasi muda dari berbagai macam organisasi dan komunitas.

Jasa Penerbitan Buku

Diskusi diawali dengan pembukaan dari Muhammad Sutisna selaku co founder forum Intelektual muda.

Dimana Menurut Sutisna, alasan kenapa diskusi ini digelar. Berangkat dari kegelisahan kami beserta tim forum Intelektual muda melihat fenomena politik hari ini khususnya dalam menghadapi Pemilu 2024 yang diwarnai oleh berbagai drama politik.

Bahkan menurutnya ini merupakan Pemilu Paling Irasional semenjak dirinya mengikuti Pemilu pertama kali di tahun 2014.

Apalagi Pasca Keputusan Mahkamah Konstitusi yang secara tak langsung memberikan karpet merah kepada Walikota Solo yang juga putera sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, langsung mendapatkan respons yang beragam dari masyarakat.

Ada yang mendukung sambil
menyebut pencalonan Gibran ini adalah kesempatan emas untuk generasi muda, namun di sisi lain Ada yang menolak karena adanya proses yang janggal terkait keputusan MK.

Bahkan mayoritas publik juga menilai pencalonan Gibran adalah sebagai upaya terselubung Jokowi untuk memastikan pemerintahan ke depan masih dalam kendalinya.

Sehingga melalui diskusi ini mari mari sama kita buka cakrawala berfikir kita untuk sebagai upaya dalam menjaga stabilitas demokrasi.

Apalagi sebagai generasi muda untuk berfikir secara sistematis dan tak terbawa arus. Apalagi sampai termakan narasi narasi yang tak mendidik secara demokrasi seperti gemoy dll.

Lalu diskusi yang dimoderatori oleh Reesti MPPS selaku aktifis perempuan muda NU diawali dengan pertanyaan melihat fenomena ini, apakah Presiden Jokowi akan bersikap netral dan siapakah yang paling diuntungkan atas situasi ini.

Dimana Yogi Apendi sebagai narasumber pertama mengatakan Pemilu merupakan salah satu proses konstitusional dalam suksesi kepemimpinan.

Maka yang harus dilakukan Presiden Joko Widodo selaku Kepala Negara menjelang periodesasi jabatannya harus memastikan proses pemilu berjalan sesuai dengan konstitusi dan demokratis.

Presiden tidak boleh terlihat meng-endorse apalagi membantu salah satu kompetitor bahkan menganggu kompetitor lainnya.

Namun yang terjadi hari ini, melihat fakta di lapangan.

Joki Tugas

Presiden cenderung terlibat secara jauh dalam proses pemilu, bahkan para pembantunya secara terang-terangan mulai dari Menko Perekonomian Airlangga Hartanto, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan hingga Menteri Kominfo Budie Arie serta pejabat lainnya membantu menggalang salah satu Paslon.

Memang secara politik itu hak pribadinya, namun secara moral maupun etika perlu menjadi pertanyaan besar.

Bahkan fakta terbaru Presiden telah Mengeluarkan PP 53 tahun 2023 tentang perubahan atas PP 32 tahun 2018 Yang dalam klausulnya Capres maupun Cawapres yang berasal dari menteri maupun kepala daerah tidak perlu mundur dari jabatannya.

Sehingga situasi ini semakin membuat Presiden mendapatkan krisis kepercayaan dari publik. Karena terlihat Presiden tidak taat terhadap nilai-nilai universal dan prinsip-prinsip dasar bahkan tidak menjaga etika sebagai Kepala Negara.

Selanjutnya Piet Cintya Mawar selaku perwakilan Generasi Pemenang yang merupakan Komunitas anak-anak muda yang mendukung Paslon Ganjar dan Mahfud mengatakan sangat miris hati sekaligus sedih melihat fenomena yang terjadi hari ini.

Apalagi dirinya mengaku sebagai pendukung utama Joko Widodo di kalangan Milenial sangat kecewa terhadap sikapnya Presiden Joko Widodo yang kerap menciderai nilai-nilai demokrasi.

Bahkan dirinya menilai kinerja Presiden selama dua periode ini sangat baik dengan memberi angka 9.

Namun semenjak ada wacana tiga periode, penundaan pemilu hingga Putusan MK yang akhirnya sebagai jalan untuk melanggengkan Gibran Putera Sulungnya sebagai Cawapres. Membuat penilaiannya terhadap Presiden menjadi angka 5.

Atas dasar situasi inilah yang semakin memantapkan pilhannya kepada Paslon nomor 03 Ganjar-Mahfud yang dinilai akan tetap menjaga marwah demokrasi kita, apalagi ada sosok Pak Mahfud MD yang terkenal sebagai pendekar konstitusi tak akan main-main pada persoalan hukum.

Dan juga sosok Pak Ganjar yang sangat merakyat berasal dari keluarga yang biasa biasa saja sama seperti kita.

Sehingga ini menjadi daya semangat untuk kita, yang bukan siapa-siapa ini pada suatu saat nanti bisa menjadi sesuatu untuk bisa berkontribusi lebih jauh kepada bangsa dan negara.

Diskusi ini juga dibuka oleh beberapa pertanyaan dari Abraham selalu aktifis PMII dan Alvin dari Pemuda Maluku Utara yang secara garis besar merasakan hal yang sama.

Terkait kondisi politik yang menyayat hati kita semua. Sehingga perlu ada gerakan besar untuk membangkitkan anak muda yang hari ini tertidur dengan lelap.

Maka dengan adanya diskusi yang digagas Forum Intelektual Muda bisa menjadi harapan bagi kita semua.

Lalu diskusi ini ditutup dengan sebuah kesimpulan, dari seluruh narasumber. Dimana kita perlu sama-sama menjaga Marwah demokrasi dari berbagai ancaman yang mendera.

Jangan sampai kita balik lagi ke zaman kegelapan. Ketika demokrasi hanya dijadikan alat saja. Tapi secara substansi tak ada.

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store