Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Cinderella Complex Politisi Kita

Kabarbaru.co
Penulis: Milki Amirus Sholeh.

Editor:

KABARBARU, OPINI– Selain bahasa perundang-undangan kita yang sulit dipahami kaum hamba sahaya tingkah pelaku pembuatnya juga tidak mengenakkan. Posisi sebagai pembuat kebijakan ternyata juga ikut menimba dahaga dari hasil ketuk palu yang dilakukannya. Alhasil, kita sulit membedakan mana tuan dan bawahan, dalam skema piramida makanan, politisi kita adalah pemakan sesama. Tidak ada pilihan kata eufimisme untuk menukilkan kesan ini, karena publik benar-benar kehilangan pondasi berpikir sistematis dan kritis atas dirinya. Kini hanya ada satu bentuk set pemikiran yakni kehendak negara. Semua berlindung atas dimensi legitimasi kedudukan Negara. Akhirnya ornamen rakyat yang dititipkan itu mengalami kristalisasi dan me-marwahkan diri, terpisah dai rahim dan daulat pengangkatannya.

Jasa Penerbitan Buku

Jadi mungkin ada benarnya kata-kata Richard Wright dalam American Hunger “Politik bukanlah permainan saya. Hati manusia adalah permainan saya.” Dunia politik seperti latihan yang tak pernah usai, di sanalah hati publik begitu diuji. Harapan yang memang misteri adalah kenyataan yang seolah salah tempat saat dititipkan pada politisi. Bagaimana tidak mafhum, wibawa yang dilekatkan hasil dari pemilu rakyat itu kini dibawa-bawa keluar meja kerjanya. Dirinya menagih rasa hormat dengan meluaskan cengkraman rasa kuasanya . Demikianlah epik ini terus terjadi seolah rakyat semakin bodoh dan kehilangan fundamen intelektualnya.

Goenawan Mohamad menyebut “pendidikan politik memang tak perlu. Yang diperlukan ialah keterampilan merencanakan, mengontrol, dan mencapai target,”. Sifat pongah politisi pada akses yang mereka miliki mengubah perilaku mereka seperti wujud dongeng yang seolah diharap-harapkan. Mereka tidak begitu dependensi atas dirinya kecuali menjaga rasa aman atas apa kehendak bebas yang dimilikinya. Sikap cengeng politisi kita sangat dicerminkan dalam sikap kekuasaan dalam praktek akumulasi dan percepatan perebutan kursi, bahkan sebelum rakyat tahu apa yang didapatkan dari pemilu sebelumnya.

Tema politik dan kemenangan pribadi itu seperti kisah protagonis yang membawa berkah. Sebagai mana Cinderella menunggu tuannya, dia akan menutup dan mengesampingkan segala hal termasuk orang lain yang ikut menata susunan tangga agar dirinya benar-benar dapat pangerannya. Di praktek politik praktis, batu tangga itu adalah nadir rakyat lintas kelas dan penderitaan. Tetapi seolah nasib terulang, bahwa korban benginsya politisi kita tidak pernah menganggap posisi rakyat sebagai korban. Ada perasaan super hero yang dianyam dan dilanggengkan dalam internal kalangan mereka sendiri.

Mental Ketergantungan

Semua hal belakangan ini diukur kepemilikan material yang menempel dari pribadi seseorang. Bahkan kisah kesusksesan yang harusnya menjadi inspirasi malah berfungsi sebagai kenyataan mem-bully dan penumbuh mimpi bagi siapa saja yang melihatnya. Pribadi politisi kita tak ada bedanya dengan para suksesor ekonomi yang memiliki privilege yang luar biasa. Jadi wajar jika mereka menganggap selalu ada kekuatan lain di luar mereka jika terjebak dalam banyak tuntutan publik. diskredit ini memunculkan psikologis pemimpin yang selalu ketergantungan dan tidak bisa membuat rumusan kolektif. Ego sektoral politisi kita bukan ditunjukkan dalam narasi kebangsawanan yang haq.

Pertalian simbol kemewahan dan kemapanan nyatanya tidak di dekonstruksi dari penampilan politisi kita. Beragam fasilitas yang mereka dapatkan tidak mejadikan kritik internal pada kepribadiannya. Lingkungan semacam itu menyusun ekosistem kerja yang mengarah pada tindakan kolusi nepotisme. Rentetan kebijakan yang jauh dari kata baik pada ke daya tahanan bangsa ini justru menjadi trend. Seperti fraksi dalam partai parlemen, publik seperti oposisi yang membesarkan hatinya sendiri dalam kekalutan kegagalan atas tuntutan aspirasinya.

Tidak banyak opsi lain yang bisa dikerjakan politisasi kita selain mencari peluang yang tendensius pada pikiran pragmatis. Debat kusir dan ekspresi egaliter dari sosok politisi juga tak membuat publik simpati. Seringkali seloroh DPR membelakangi apa yang publik harapkan. Kejadian seperti demikian semacam sunnah yang diulang bahwa kebijakan apapun sekurang-kurangnya harus lebih banyak menguntungkan pembuatnya.

Pemikir barat Nietszche pernah berseloroh bahwa “hanya orang Inggris yang tetap bekerja sekalipun sudah menang,” Setelah lebih memandang dalam diri kita, rupanya tak jauh berbeda dari orang Inggris pada umumnya. Rakyat benar-benar tidak memiliki pandangan besar pada kenyataan selanjutnya. Macam kisah Cinderella yang akhirnya dapatkan segalanya, politisi kita separuh hati untuk menempatkan dirinya pada rakyat secara baik dalam capaian-capaian tersebut.

Karena lugunya lingkungan politisi kita, maka opsi untuk tidak membagi suara pada mereka juga bukan keniscayaan demokrasi. Dikarenakan keberadaan rakyat layaknya dongeng, tidak salah jika kita menganggap sebaliknya sistem politik kita itu utopis. Menyikapi hal utopia yang baik hanya dengan mengambil jarak dari keseluruhan sistem sampai ada kenyataan rakyat bukan piguran dari kebergantungan politisi kita yang sikap-sikap oportunis tersebut.

 

*) Penulis adalah Milki Amirus Sholeh, Pegiat Persoalan Sosial

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kabarbaru.co

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store